MASIH KOTOR : Kotoran burung yang menempel di trotoar dan aspal di sepanjang Jl. Mayor Suryotomo, Gondomanan, Kota Jogja. Meksi sudah tidak tercium bau karena tersiram air hujan tapi noda dari kotoran burung masih ada. (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Persoalan kotoran burung yang meneror warga Jalan Mayor Suryotomo Ngupasan Gondomanan belum ada solusinya. Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja baru membersihkan kotoran burung di jalan. Bagaimana dengan burung-burungnya?

Koordinator Kelompok Pengamat, Peneliti, dan Pemerhati (KP3) burung Fakultas Kehutanan UGM Krisna Adi Gumilar mengatakan burung-burung yang bergerombol di satu tempat adalah fenomena lumrah. Fenomena itu dikenal sebagai migrasi. Kerap dilakukan oleh unggas dari genus Hirundo rustica.

“Biasanya disebut genus layang-layang api,” kata Krisna pada Radar Jogja belum lama ini. Jenis burung layang-layang tersebut memang memiliki kemiripan dengan burung sriti dan burung walet. Namun ketiganya berbeda. Jenis sriti dan walet itulah yang lebih akrab di masyarakat.

Krisna menjelaskan, migrasi yang dilakukan burung layang-layang api tersebut dimulai dari utara ke selatan. “Saat ini kan utara sedang musim dingin. Mereka ke sini (selatan) untuk mencari makan,” jelasnya.

Sehingga, jenis burung tersebut hadir di tengah-tengah kota diperkirakan sejak September tahun ini. Nantinya, menjelang musim semi di utara, sekitar Februari, jenis burung tersebut akan kembali ke utara.

Selain itu, ada pula faktor lain yang mempengaruhi keberadaan burung layang-layang di tengah kota. “Banyaknya lampu di tengah kota mengundang banyak serangga,” ujar Krisna. Serangga itulah yang menjadi sasaran mangsa bagi burung layang-layang. Tak hanya itu, kehadiran mereka di kota juga diyakini sebagai bentuk perlindungan diri dari predator.

Fenomena migrasi itu tak hanya terjadi di sekitar Jalan Mayor Suryotomo. Krisna menyebut juga terdapat di sekitar Jalan Agro, Caturtunggal Sleman.

Terkait kotoran burung yang baunya mengganggu, Krisna dan rekan-rekannya di KP3 UGM belum bisa menemukan solusinya. Butuh penelitian lebih lanjut untuk bisa mengatasi fenomena tersebut. Terlebih, keberadaan burung layang-layang api itu layaknya warisan. “Jadi kalau burung-burung sebelumnya sering ke wilayah kota. Nanti yang berikutnya juga akan ikut migrasi ke sana,” jelas Krisna. Sehingga sulit untuk serta merta mengusir burung-burung tersebut. Sebab, pola tersebut akan berulang setiap tahun.

Menurut dia burung layang-layang termasuk hewan diurnal. Yakni hewan yang keluar dan mencari makan saat siang. Jenis burung itu lantas akan kembali pada saat malam usai mencari makan.

Itu sesuai dengan pengakuan warga Ngupasan, Andriyanto yang mengaku biasanya burung-burung tersebut baru datang saat sore menjelang malam. “Yang menjadi pertanyaan, kalau siang nggak ada, tapi rame saat malam,” ujarnya.

Andriyanto mengaku beberapa waktu lalu petugas DLH Kota Jogja sudah membersihkan kotoran burung di jalan. Tapi kotoran burung tak juga hilang, Andriyanto pasrah. “Ya gimana ya, namanya juga hewan. Mau dibersihin juga balik lagi kalau terbangnya masih di sini-sini saja,” tuturnya pasrah.

Ketua RW 09 Ngupasan Pemi Sutanto juga mengaku sulit untuk mengatasi hal itu. Terlebih burung-burung tak kunjung pergi, maka kotoran akan kembali muncul. Pemi dan warganya pun hanya pasrah dengan datangnya musim penghujan. “Sampai sekarang kami belum ada gerakan kebersihan atau kerja bakti. Kami bingung solusinya apa,” tuturnya. (cr9/pra/by/mg3)