MAGELANG – Keterbatasan fisik tak menghalangi semangatnya untuk terus maju. Hal ini menjadi pembuktian Tri Maya Wahyu, yang terlahir dengan fisik kurang lengkap. Satu tangan kanannya tidak tumbuh dengan sempurna, sehingga ia hanya mengandalkan dengan satu tangan kiri.

Namun gadis kelahiran Wonosobo 12 Desember 1999 ini tak pernah patah semangat. Dia juga tidak minder. Termasuk urusan pendidikan, sehingga putri sulung dari dua bersaudara ini selalu semangat belajar.

Hasilnya, dia diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) Universitas Tidar (Untidar) Magelang lewat beasiswa Bidikmisi. Yakni bantuan pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi tapi punya potensi akademik bagus.

“Saya memang ingin sekali bersekolah hingga jenjang yang tinggi. Bapak memang kerjanya kuli bangunan dan ibu petani, tapi saya optimistis bisa kuliah,” katanya.

Lulusan SMK 2 Wonosobo ini mengaku, keinginannya yang kuat untuk kuliah didasari oleh lingkungan di desanya, yakni Desa Laranganlor, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, yang masyarakatnya kurang dalam pendidikan. Ia pun masih melihat adanya kesenjangan sosial yang cukup tinggi.

“Makanya saya ingin kuliah, bahkan sampai S2. Setelah lulus nanti, saya ingin kembali ke desa untuk ikut membangun desa, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, maupun lainnya,” tuturnya.

Menyadari dari keluarga kurang mampu, mahasiswi semester awal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ini pun berusaha mencari beasiswa. Akhirnya terdapat beasiswa Bidikmisi dari pemerintah pusat dan ia pun mendaftar.

“Awalnya masuk SNMPTN jalur Bidikmisi, tapi gagal. Lalu masuk lewat SBMPTN dan bisa diterima. Sebelum tes, saya ikut karantina di Wonosobo selama sebulan dengan menu soal-soal SBMPTN. Alhamdulillah akhirnya lulus,” jelasnya.

Mengingat sudah diterima jalur Bidikmisi tahun 2018 bersama 214 mahasiswa lainnya, dia diwajibkan membuat karya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Maya yang satu-satunya mahasiswa tunadaksa sebagai penerima Bidikmisi ini pun mengambil PKM Penelitian.

Ia meneliti kearifan lokal di desanya dengan judul “Pecah Bumbung Local Wisdom Desa Laranganlor sebagai Solusi Meringankan Pajak”. Karyanya masih dalam bentuk proposal dan belum lama ini didatangi tim Bidikmisi dalam rangka monitoring dan evaluasi (monev).

“Tradisi ini muncul menjelang musim pembayaran pajak. Masyarakat menggelar pecah bumbung (memecah celengan dari bambu) secara bersama-sama di lapangan desa. Uang itu untuk melunasi pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB),” ungkapnya.

Ia melihat tradisi itu menarik yang mengandung banyak nilai, seperti budaya menabung, guyup rukun antar-warga, dan ketaatan warga membayar pajak. “Tradisi ini sekarang menjadi event yang menarik untuk dilihat,” ungkapnya. (dem/laz/er/mg3)