Pendidikan adalah hal yang utama terhadap diri seseorang. Bahkan, pendidikan menjadi sebuah kewajiban fundamental bagi setiap individu untuk bisa berkontribusi bagi dirinya sendiri maupun bangsa dan negara.

Pentingnya pendidikan adalah suatu hal yang perlu ditanamkan sejak dini sebagai upaya penanaman nilai-nilai positif yang edukatif dan tentunya menjadi tujuan setiap bangsa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa antar generasi. Teringat kata Pak Buya Hamka bahwa, ”kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”.

Tentunya, kutipan tersebut bermakna bahwa ilmu merupakan sebuah hal elusif yang tertanam pada diri masing-masing seseorang sebagai bagian dari derajat orang itu sendiri. Tak perlu banyak menjelaskan akan pentingnya pendidikan karena pendidikan sudah memberikan banyak contoh konkrit dan komprehensif untuk kemajuan setiap aspek yang ada di dunia ini.

Tentunya, tidak semua dapat berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Tantangan global saat ini sangat bervariasi yang salah satunya adalah kebodohan dan keterbelakangan. Pendidikan formal tidak cukup untuk bisa membawa individu tersebut beranjak diri ke sebuah kesuksesan.

Menurut Badan Pusat Statistik, terdapat 6,87 juta pengangguran di Indonesia. Data tersebut adalah contoh konkrit bahwa sumber daya manusia yang ada masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi bangsa ini. Terlebih lagi, kesempatan mencari kerja semakin sulit karena adanya lingkungan dan individu yang semakin heterogen dari masa ke masa. Sehingga, perlunya daya saing dan kerja keras yang besar bagi setiap individu adalah yang utama. Menurut Engkoswara,

”Tantangan yang terjadi pada era globalisasi adalah semakin menipisnya kualitas kemandirian bangsa Indonesia. Krisis yang melanda Indonesia yang multidimensional mengakibatkan budaya bangsa semakin memudar, yaitu terjadinya degradasi moral spiritual, semangat berusaha dan bekerja yang semakin melemah, dan kreativitas yang semakin mengkerdil.”.

Dari kutipan tersebut menunjukkan bahwa output dari pendidikan adalah keterampilan hidup atau life skill. Bahkan, life skill sudah dibutuhkan sejak dini maupun remaja sehingga dapat memudahkan individu tersebut dapat memanfaatkan pendidikan yang ia peroleh dan merealisasikannya ke kehidupan nyata dalam bentuk pengamalam ilmu yang didapatkan. Dari hal ini, semuanya menonjolkan arti penting dari cita-cita dan profesi impian seseorang. Walaupun kita tidak dapat mengetahui latar belakang dan motivasi setiap individu yang berbda-beda, tetapi dari semua isu ini, terlihat bahwa pendidikan masih terlihat sangat monoton bagi segelintir orang.

Pendidikan hanya menjadi sebuah kewajiban, saat orang tua menyekolahkan anaknya ke pendidikan dasar dan terus berlanjut hingga perkuliahan. Namun, tantangan global saat ini sangatlah berat dan menguji daya saing setiap orang untuk bisa bersaing dengan masyarakat internasional khususnya dalam hal mencari lapangan pekerjaan. Tetapi, esensi dari tujuan pendidikan itu sendiri mulai memudar dikarenakan pendidikan hanya menjadi formalitas semata bagi segelintir orang. Padahal, pendidikan sebenarnya adalah proses membangun individu yang lebih kreatif dan inovatif dan dapat menyalurkan ilmunya untuk bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Muncul pertanyaan bagaimana cara untuk generasi bangsa dapat memanfaatkan pendidikan sebaik mungkin dan meningkatkan motivasi setiap individu agar bisa belajar dengan kreatif dan inovatif?

Terlebih lagi, dibutuhkan bagi pendidikan sejak dini agar anak-anak dapat termotivasi sejak kecil dan berminat untuk belajar tanpa adanya paksaan dari orang-orang terdekatnya. Tentunya, beberapa inovasi yang dapat dilakukan salah satunya adalah dengan cara memberikan Edutainment dan mulai menerapkan pentingnya Lifelong Learning.

Edutainment adalah proses pembelajaran yang memuat rancangan pendidikan yang kreatif, inovatif, harmonis, sehingga aktivitas pembelajaran berlangsung menyenangkan. Edutainment tidak hanya dapat diterapkan di sekolah dasar saja, tetapi sekolah menengah pertama hingga atas dapat menerapkan inovasi ini.

Konsep Edutainment bisa diterapkan melalui: demonstrasi, penggunaan multimedia, mengombinasikan pembelajaran dengan seni, menggabungkan pendidikan dan permainan kecil, menyelipkan humor ala kadarnya, menggunakan metode bermain peran pada pendidikan, dan masih banyak lagi.

Konsep ini memang terlihat sangatlah simpel, namun menjadi sebuah kontribusi tersendiri bagi siswa-siswi untuk berpartisipasi aktif dalam sebuah kelas. Bahkan, Edutainment sendiri sudah direalisasikan dalam sebuah taman bermain anak khusus anak usia 2-16 tahun. Lebih tepatnya dikenal dengan sebutan Pinisi Theme Park. Pinisi Theme Park adalah taman bermain indoor seluar 6.000 meter persegi dan dirancang menyerupai kota pelabuhan dengan landmark sebuah kapal kayu tradisional pinisi.

Ada beberapa hal menarik dari Edutainment ini. Bahwa ada empat kategori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang baik terkait dengan motivasi ”mengapa siswa belajar”, yaitu :

  • Motivasi intrinsik : siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan.
  • Motivasi instrumental : siswa belajar karena akan menerima konsekuensi, misalnya reward.
  • Motivasi sosial : siswa belajar karena ide dan gagasannya ingin dihargai.
  • Motivasi prestasi : siswa ingin belajar karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya.

Semua motivasi tersebut merupakan tujuan dari Edutainment sendiri untuk bisa membangkitkan empat motivasi tersebut. Sebuah tujuan yang baik dan sangat berharga karena pendidikan sebenarnya adalah meningkatkan motivasi belajar seseorang dengan sesuka hatinya tanpa adanya paksaan melainkan motivasi yang muncul dari diri sendiri untuk menuntut ilmu. Prinsip Edutainment dapat disimpulkan dalam tiga kata : menyenangkan, cepat, dan memuaskan. Edutainment menjadi salah satu inovasi bagi generasi bangsa untuk bisa membuat proses pendidikan semakin menarik dan menghasilkan lulusan yang semakin berkualitas. (ila)

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Antropologi Sosial Universitas Hasanuddin 2018. Penulis lepas berumur 17 tahun asal Palu dan sering berkontribusi di media cetak Sulawesi Tengah sejak SMA. Penulis menjadi salah satu dari 34 Nomine Opini Terbaik pada Penganugerahaan Lomba Junralistik Sahabat Keluarga Kemdikbud, Delegasi Indonesia pada Konferensi Asia Youth Leaders di Tokyo, finalis Akademi Remaja Kreatif Indonesia tahun 2016.