WAKIL Bupati Pacitan, Yudi Sumbogo curhat saat gilirannya memberikan paparan pada diskusi sesi kedua. Menurutnya, kultur masyarakat Pacitan, Jawa Timur, justru lebih dekat dengan kultur mataraman di Jogja dan Solo. Termasuk jarak Pacitan dengan ibu kota Jawa Timur di Surabaya yang lebih jauh ketimbang ke Solo atau Jogja.

Dari hal itu, dia melempar wacana untuk kemungkinan adanya wilayah baru di Jawa bagian selatan. Pacitan, menurutnya, bisa masuk ke wilayah tersebut dengan beberapa daerah di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

“Karena kalau rapat-rapat ke Surabaya, lebih jauh daripada ke Solo atau, bahkan Jogja. Sementara wilayah Jawa Tengah luas sekali. UMY bisa membuat riset atau kajian potensi jika bisa dimungkinkan adanya wilayah Jawa bagian selatan,” katanya.

Wakil dari Bupati Indartato itu menjelaskan, Kabupaten Pacitan memiliki jumlah penduduk 583.857 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, dan 166 desa. Sementara luas wilayahnya 1.389 Km2, dengan panjang pantai 71 km. Potensi hasil nelayan dan pariwisata bisa dimaksimalkan, karena dikaruniai beberapa teluk.

“Ikan tuna dan lobster banyak diekspor ke Singapura dan Jepang. Selain itu masih ada potensi pertanian dan UMKM. Objek wisata kami juga banyak, ada Pantai Klayar, Pantai Watu Karung, Gua Gong, Gua Luweng Jaran, dan rute gerilya Pangsar Sudirman,” paparnya.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Gunungkidul, Ir Izman Latif menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, Gunungkidul terus mengalami peningkatan. Salah satu indikatornya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi dari 4,3 persen di 2014, naik menjadi 4,96 di tahun 2017. Selain itu, indeks pembangunan manusia (IPM) Gunungkidul juga terus meningkat. Dari 66,31 di 2013 menjadi 69 di 2017. Sedangkan angka kemiskinan, menurun. “Saat ini tinggal 18.65 persen di 2017 dari sebelumnya di 2013 masih 21,7 persen,” tandasnya.

Beberapa hal yang dilakukan, adalah konsen ke isu strategis seperti ekonomi dan investasi. Yaitu dengan berupaya peningkatan pertumbuhan dan pemerataan. Berikutnya kemudahan investasi. “Surat izin penanaman modal, tanda tangannya cukup digital. Juga perbaikan infrastruktur untuk meningkatkan investasi,” katanya.

Lalu objek wisata yang sudah ada sejak beberapa tahun lalu, terus dikembangkan. Menurutnya, potensi pariwisata luar biasa. Selain gencar promosi, juga meningkatkan infrastruktur dan konektivitas. “Dengan adanya Bandara NYIA, jalan sambung nanti sampai ke Pacitan. Itu ikut berimbas ke pariwisata Gunungkidul,” bebernya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian DIY, Drs Trisaktiyana M.Si menjelaskan bahwa DIY punya potensi budaya dan SDM. Menghadapi revolusi industri 4.0 internet cukup berperan dalam konektivitas dan penerapan big data. Hal itu perlu dikembangkan, karena DIY tidak mempunyai banyak sumber potensi alam. (riz/jko/gp/mg3)