SLEMAN – Kasus dugaan pelecehan seksual di Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong Ombudsman Repubilik Indonesia (ORI) DIJ untuk turut melakukan investigasi. Hanya, investigasi ORI satu langkah di belakang penyidik kepolisian.

Tim yang diterjunkan sebatas mengumpulkan data dan informasi dari manajemen UGM. Bahkan belum menemui penyintas, sebut saja Agni (bukan nama sebenarnya). Sedangkan penyidik Polda DIJ telah berhasil mengorek keterangan penyintas belum lama ini.

Ketua Tim Investigasi ORI DIJ Nugroho Andriyanto berdalih lembaganya hanya mengawal kebijakan pelayanan publik. Dalam kasus tersebut, memastikan pihak kampus telah melakukan investigasi. ORI tak menyelidiki ke ranah pidana. Karena itu menjadi kewenangan kepolisian. “Kami ingin memastikan langkah (UGM, Red) seperti apa. Kalau peristiwanya merupakan fokus kepolisian, apakah tindak pidana atau bukan,” jelasnya ditemui di Dekanat Fisipol UGM Rabu (21/11).

Selain minta keterangan pihak Dekanat Fisipol, tim ORI mengumpulkan informasi dan dokumen. Terkait progres penanganan kampus pasca pelaporan si penyintas kepada fakultas. Informasi dan dokumen itu nantinya sebagai bahan menyusun rekomendasi dan kesimpulan.

Investigasi ORI terpisah dari kepolisian. Sehingga ada kemungkinan perbedaan data dan informasi. Hanya, komunikasi antarlembaga tetap dilakukan. Terlebih jika kepolisian membutuhkan data eksternal sebagai bahan pertimbangan penyidikan. “Tapi selama ini polisi memiliki standar operasional tersendiri,” ujar koordinator Bidang Penyelesaian Laporan ORI DIJ itu.

Hasil investigasi ORI belum final. Karena tim belum mendapat keterangan langsung dari penyintas maupun pelaku. Hari ini tim ORI berencana melanjutkan investigasi. Di fakultas teknik. Untuk mengorek keterangan seputar terduga pelaku, HS, yang disebut-sebut sebagai mahasiswa jurusan teknik sipil, saat dugaan pelecehan seksual yang dilakukannya terjadi pada pertengahan 2017 lalu.

“Kami juga akan menemui tim investogasi bentukan rektorat. Agar kesimpulan kami objektif dan komprehensif,” katanya.

Dekan Fisipol Erwan Agus Purwanto menyatakan telah memberikan keterangan seobjektif mungkin. Termasuk hasil investigasi dan rekomendasi yang dikeluarkan Dekanat Fisipol. Berupa permintaan kepada rektorat untuk menjatuhkan sanksi bagi terduga pelaku.

Erwan mengakui, hasil investigasi internal sempat tersendat. Bahkan penyintas kecewa atas keputusan rektorat. Inilah yang melandasi munculnya rekomendasi dekanat.

“Memberikan detail keterangan awal hingga mencuatnya kasus. Kami mengirimkan rekomendasi ke rektorat Juli 2018, tapi penyintas merasa penanganan tidak adil,” bebernya.

Hal itulah yang menjadikan kasus tersebut kembali mencuat pada 5 November lalu. Sebagaimana diketahui, penyintas dilaporkan mengalami pelecehan seksual saat kuliah kerja nyata (KKN). Di Pulau Seram, Maluku. Kasus tersebut tak terekspose publik lebih dari setahun. Sejak kejadian.

Terpisah, Natasya, pendamping penyintas, mengungkapkan kondisi psikis Agni, relatif stabil. Sampai sekarang Agni tetap mengikuti perkuliahan secara normal. Kabar terbaru, Agni sedang menjalani bimbingan skripsi.
“Sudah skripsi tapi sedikit tersendat, terakhir bimbingan dua minggu lalu,” kata aktivis #KitaAgni. (dwi/yog/by/mg3)