MAGELANG – Masyarakat RW 9 dan RW 10 Kelurahan Cacaban, Magelang Tengah, meminta kebijakan kepada Pengelola Perusahaan Daerah Objek Wisata (PDOW) Taman Kyai Langgeng (TKL). Mereka minta diberi akses jalan menuju beberapa lokasi yang berada di objek wisata itu. Warga keberatan dengan dilakukannya pemagaran beton tanpa adanya akses jalan bagi warganya untuk masuk ke TKL.

“Tentu saja warga keberatan karena secara historis sejarah, dulunya sebelum menjadi Taman Kyai Langgeng dan masih menjadi Taman Bunga, wilayah Kyai Langgeng itu menjadi tempat bermain anak-anak,” ujar Ketua RT 7 RW 9 Kelurahan Cacaban Sukarmo Selasa (20/11).

Menurut Sukarmo, di dalam TKL ada sebuah sungai, yakni Sungai Bangkong, yang sering menjadi salah satu tempat masyarakat untuk mencuci dan memancing ikan. Sungai yang airnya cukup jernih itu juga sering dimanfaatkan untuk mandi dan cuci oleh warga.

“Kami juga sering mancing di sana. Kalau ditutup kan kami tidak dapat masuk ke sana. Padahal ada nilai historis yang harusnya tidak serta merta ditinggalkan,” ungkapnya.

Namun demikian, warga tidak keberatan jika memang dipagari dengan beton, asalkan ada akses jalan yang dapat dilalui untuk mencari ketenangan dengan menikmati lingkungan di dalam Kyai Langgeng.

“Jika ada pintu masuknya kan kami masih bisa masuk untuk sekadar memancing di Sungai Bangkong atau sekadar duduk-duduk untuk menyegarkan otak,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Subakdono, salah satu warga yang juga merasa keberatan dengan penutupan dengan pemagaran yang dilakukan oleh pengelola Taman Kyai Langgeng. Dirinya juga bercerita seringkali ada ayam warga yang masuk ke dalam taman dengan melompati pagar yang tingginya mencapai empat meter itu.

“Akhirnya ayam itu kan tidak bisa keluar. Jika tidak ada pintunya, lalu bagaimana kita bisa masuk untuk mengambil ayam itu. Maka dari itu penting sekali untuk dikasih pintu,” jelasnya.

Dirinya pun mengaku tidak keberatan jika memang harus membayar setiap kali masuk ke dalam TKL jika telah difasilitasi dengan pintu masuk. “Kami tidak keberatan jika harus membayar, daripada harus melewati pintu masuk yang jauhnya hampir sekitar 3 Km,” tegasnya.

Pernyatan ini terungkap dalam audiensi yang digelar pihak Kelurahan Cacaban antara warga dengan pihak TKL. Hadir Direktur TKL Edy Susanto Purnomo, penasihat TKL Muji Rohman, anggota DPRD Kota Magelang Jatmiko, Wakapolsek Magelang Tengah Ipda Sukardiyana dan lainnya. Namun hasil audiensi itu pun tidak mendapatkan sebuah solusi dari permasalahan yang selama ini membuat warga resah. Bahkan warga RT 7 RW 9 mengaku pasrah jika memang tidak ada solusi yang diambil.

Sementara itu, Kepala Bagian Operasional dan Perencanaan Taman Kyai Langgeng Selamet Mariyono menyampaikan, pihaknya masih akan mengkaji permohonan warga tentang adanya pintu khusus. “Dari badan pengawas mengaku akan mengkaji lebih lanjut tentang keinginan warga ini. Tapi hal ini bukan serta merta akan mengiyakan keinginan warga itu,” tandasnya. (dem/laz/by/mg3)