Semua orang tahu keganasan ombak laut selatan. Tapi, bagi Uyok Akihito, itu tak menciutkan nyalinya. Berikut kisah peselancar peringkat kesembilan Asia U-16 asal Bantul itu.

SUKARNI MEGAWATI, Bantul

MATAHARI sore itu mulai turun di ufuk barat. Senja segera berganti malam. Wisatawan mulai meninggalkan Pantai Parangkusumo. Namun tidak demikian dengan Uyok Akihito. Dia malah unjuk gigi. Di atas ganasnya ombak sore itu. Beberapa kali Uyok tampak menunggu ombak. Yang lebih besar. Dia lantas berdiri di atas papan selancarnya. Kemudian bermanuver. Di atas gulungan ombak. “Sebentar ya, saya panggilkan,” ujar Budi Santoso, ayah Uyok Akihiko, saat Radar Jogja menemuinya usai festival sate klatak di Pantai Parangkusumo pekan lalu.

Budi lantas memasukkan empat jarinya ke mulut. Suara melengking pun keluar dari mulutnya. Seperti bunyi peluit. Itu tanda panggilan bagi Uyok. Agar segera menepi ke pantai. Tapi yang dipanggil tak segera menepi. Dia tampak masih asyik bermanuver di gulungan ombak. Ombak tinggi tak membuat remaja 16 tahun itu goyah. Dari papan selancarnya. “Maaf ya, lama. Itu dia tuh lagi atas ombak,” kata Budi sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Uyok.

Setelah dikode beberapa kali, dengan “peluit” jari ayahnya, Uyok pun lantas mengakhiri aksinya. Menenteng papan selancar berlatar hijau dengan corak merah di bagian sisi. Uyok lantas menghampiri Radar Jogja. Kaus hitam dan celana pendeknya basah. Matanya merah. Tapi tak sekalipun Uyok mengusap wajah atau matanya. Sepertinya dia memang sudah bersahabat dengan asinnya air laut. “Saya sudah berselancar sejak usia 7 tahun. Tapi mulai menekuni kompetisi tujuh tahun terakhir ini,” ungkap Uyok.

Karirnya dimulai di festival pantai skala daerah. Dia kerap jadi juara. Prestasi itu membawanya ke level lebih tinggi. Uyok sering diundang dalam festival nasional. Bahkan internasional. Pengalaman surfing di dalam dan luar negeri tak diragukan lagi. Meski usianya baru 16 tahun. Tahun lalu dia ditahbiskan sebagai peringkat kesembilan peselancar Asia U-16. Itu cukup menjadi buktinya. Akan kemampuannya menaklukkan ombak. “Saya tumbuh dan belajar (surfing, Red) di Pantai Parangtritis, Bantul,” ungkapnya.

Bagi orang awam, berselancar di atas ombak bukanlah hal mudah. Tapi bagi Uyok, susah atau mudah tergantung masing-masing orang. “Yang penting giat dan latihan terus. Akan lebih mudah,” kata pehobi motor trail itu.

Uyok mengakui ganasnya ombak pantai selatan di Parangtritis. Tipikal ombaknya keras dibanding pantai lainnya. Arusnya juga lebih kencang. Apalagi ombaknya. “Di Parangtritis juga tidak ada karang, tipikal palungnya juga bengkok-bengkok,” kata Uyok sambil mengusap papan selancarnya.

Justru itulah tantangannya. Bagi peselancar. Demikian juga bagi Uyok. Peselancar hebat harus bisa bertahan di atas ombak besar. Ombak Pantai Parangtritis ibarat kawah candradimuka bagi peselancar muda ini. “Cocok banget buat yang mau tingkatkan skill,” ujar sosok yang berulang tahun tiap 14 Juli itu.

Menurut Ucok, Indonesia memiliki banyak pantai yang cocok bagi peselancar andal. Dibanding pantai-pantai lain di negara Asia. “Selain Parangtritis, ombak Mentawai lebih ganas. Tantangannya jangan ditanya,” katanya.

Tipikal karang di Mentawai cukup dangkal. Tapi ombaknya sangat besar. “Surfer harus bisa manuver menjaga keseimbangan. Agar tak jatuh di atas karang,” ungkap remaja yang juga hobi traveling.

Tipikal ombak seperti itulah yang menarik minat wisatawan mancanegara. Untuk datang ke Indonesia. Untuk menikmati wisata selancar. Mayoritas asal Jepang, Thailand, dan Malaysia. “Saya juga mendampingi turis dan anak-anak yang mau belajar bareng. Sharing untuk surfing lebih baik lagi,” tuturnya.

Saat ini masih kuat ambisinya untuk mengikuti kompetisi surfing tingkat dunia. World Surf League (WSL), salah satunya. Kompetisi dunia yang digelar kementerian pariwisata itu. WSL 2018 digelar di enam daerah. Di antaranya, Uluwatu (Bali), Simelue, Nias, dan Sumbawa Barat. Sedangkan WSL 2019 direncanakan di Sumbawa Barat, Krui, Ujung Bocur, Mentawai, Bali, Simelue, Cimaja, Pacitan, Watukurung, Mandalika, Nias, Lagandri Bay, Rote, dan Pantai Boa.

Uyok sadar, WSL hanya diikuti peselancar-peselancar andal. Dari berbagi belahan dunia. Belajar dan giat berlatih menjadi salah satu kunci persiapannya. Menjadi peserta WSL. (yog/rg/mg3)