JOGJA – Tingginya kasus gangguan kejiwaan di Kota Jogja menggelitik psikolog Engginering Career Center (ECC) Universitas Gadjah Mada Gita Aulia Nurani. Sebagaimana diketahui, Dinas Kesehatan Kota Jogja mencatat, selama Januari – September 2018 terdapat 6.753 kasus gangguan kejiwaan. Dengan 914 di antaranya tergolong gangguan jiwa berat.

Menurut Gita, kondisi itu dipicu tuntuan hidup masyarakat perkotaan. Yang tak seimbang dengan kehidupan sosial. Warga kota cenderung abai terhadap orang lain. Kondisi ini berpotensi menjadi penyebab stres bagi seseorang. Jika stres dibiarkan, dalam jangka tertentu bisa menimbulkan depresi. “Depresi adalah fase di mana penderitanya mulai tak peduli dengan kehidupannya,” jelas Gita Selasa (20/11). Gejala depresi seperti mengurung diri, susah tidur, hingga malas beraktivitas harian. “Orang depresi juga lebih cenderung tidak memperhatikan kondisi sekitarnya,” jelasnya.

Penderita depresi biasanya akan acuh dengan kondisi dirinya sendiri. Nafsu makan berkurang. Dan tak memperhatikan kebersihan atau kesehatan badan.

Selain itu orang yang sudah depresi lama kelamaan mengacuhkan kondisi dirinya sendiri. Seperti berkurangnya nafsu makan dan tidak memperhatikan kebersihan badan. Kondisi ini bisa lebih parah jika seseorang mengalami masalah finansial berkepanjangan.

Gejala itulah yang harus dipahami. Selanjutnya dihindari. Ketika seseorang tak bisa menahan beban pikiran, segeralah konsultasi ke psikolog. Tapi jika masalah itu berpengaruh pada kehidupan, ada baiknya konsultasi ke psikiater. “Bisa sekadar konsultasi. Jika perlu dengan resep obat,” katanya.

Jika sudah demikian, peran orang terdekat menjadi sangat krusial. Keluarga bisa menjadi tempat curhat. Untuk sekadar meringankan beban pikiran penderita depresi. Itu penting guna mencegah seorang mengalami gangguan jiwa. (cr5/yog/rg/mg3)