Insiden kabin bianglala terbalik di pasar malam perayaan sekaten (PMPS) 2018 membuka mata semua pihak. Akan pentingnya sertifikasi keamanan wahana permainan. Apalagi, sejauh ini penyelenggara biasanya hanya mengantongi izin kegiatan.

WALI Kota Jogja Haryadi Suyuti mengakui ketiadaan sertifikat keamanan pada wahana permainan PMPS di Alun-Alun Utara. Demi keamanan pengunjung, tujuh bianglala dan 8 kora-kora dilarang beroperasi lagi. Hingga akhir perhelatan PMPS Senin (19/11). Agar insiden penumpang bianglala melorot dari kabin tak terulang. Ironisnya, pengawasan dari pemerintah lemah. Buktinya, wahana dengan risiko bahaya tersebut tetap dibuka bagi pengunjung PMPS. Beberapa hari setelah ada pelarangan.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)
(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Bicara soal bianglala, DIJ sebenarnya punya destinasi yang bisa menjadi rujukan. Yakni Sindu Kusuma Edupark (SKE). Di Desa Sinduadi, Mlati, Sleman. SKE punya bianglala tertinggi di Indonesia. Mencapai 50 meter. Namanya Cakra Manggilingan. Sertifikasi keamanannya tak perlu ditanya lagi. Berstandar internasional. Itu pun perawatannya dilakukan setiap hari.

Cakra Manggilingan memiliki 28 kabin. Konstruksinya ditanam di tanah sedalam 80 meter. Satu hal yang harus diperhatikan, konstruksinya tidak asal-asalan. Pengoperasiannya juga harus mempertimbangkan berbagai aspek. Kecepatan angin pun diperhitungkan. Sebagai bahan pertimbangan. Demi keamanan dan kenyamanan penggunanya.

“Seluruh kabin tertutup rapat. Sisi atas berupa kaca tebal. Supaya pengguna bisa melihat pemandangan,” jelas Supervisor Engineering Wahana SKE Riyadiyanta Minggu (18/11).

Pintu kabin dikunci dari sisi luar. Pintu ini hanya bisa dibuka-tutup oleh operator. Itu juga demi menjamin keamanan pengguna. Pintu kabin juga tak sembarangan. Buka-tutup menggunakan sistem geser. Bukan pintu dorong. Ini untuk menghindari jika sewaktu-waktu ada penumpang nekat. Mau membuka pintu saat bianglala sedang berputar.

Pengisian kabin pun ada ketentuannya. Setiap kabin maksimal diisi empat orang. Mereka duduk saling berhadapan. Penumpang tak bisa asal pilih kabin. Semua ditentukan operator. Pengisian kabin dibuat tak berurutan. Tapi ada jedanya. Ini guna memastikan keseimbangan perputaran bianglala. Di empat sisi. Tidak boleh lebih berat di salah satu sisinya.

Calon penumpang Cakra Manggilingan harus memenuhi syarat tertentu. Salah satunya tidak memiliki riwayat sakit asma, jantung, dan berbagai penyakit rawan lainnya. Pengunjung juga wajib mematuhi aturan selama berada di dalam kabin bianglala.

Operator Cakra Manggilingan juga harus memastikan kecepatan angin. Menggunakan anemometer (alat penghitung kecepatan angin). Jika kecepatan angin lebih dari 3 knot, bianglala raksasa itu tak akan dioperasikan. Hanya saat kecepatan angin dalam batas aman, bianglala boleh dinaiki penumpang. “Jadi tidak bisa asal berputar,” tegas pria 50 tahun itu.

Menurut Riyadiyanta, kecepatan angin hingga lebih dari 3 knot sebenarnya masih tergolong aman. Bahkan hingga belasan knot sekali pun. Masih aman. Tapi pengunjung tidak akan nyaman. Makanya Cakra Manggilingan hanya diputar jika kecepatan angin kurang dari 3 knot. Lebih dari itu alarm akan berbunyi. Jika demikian, perputaran wahana dihentikan sementara. Jika masih ada penumpang, mereka diturunkan dahulu. Secara bergiliran. Dengan sistem yang sama seperti saat menaikkan penumpang. Untuk menjaga keseimbangan bianglala itu.

Selain angin, hujan juga menjadi parameter. Cakra Manggilingan tak akan dioperasikan saat hujan deras. Sama halnya ketika kecepatan angin meningkat secara mendadak, saat hujan seluruh penumpang diturunkan. Dengan sistem yang sama pula.

“Kecepatan putaran bianglala juga dibatasi. Semua demi keamanan dan kenyamanan penumpang,” jelas Rinadiyanta.

Cakra Manggilingan digerakkan dengan delapan ban berukuran jumbo yang berputar secara reverse. Artinya bisa berputar searah maupun melawan arah jarum jam. Empat ban di sisi kanan dan empat ban di sisi kiri. Sistem ini pun demi menjamin keamanan operasional wahana. Juga demi memudahkan operator jika terjadi masalah sewaktu-waktu. “Sekali putaran (Cakra Manggilingan, Red) butuh waktu enam menit,” sambungnya.

Untuk mengihindari sambaran petir, bagian paling ujung atas tonggak bianglala itu terpasang alat penangkal petir. Genset pun stand by 24 jam. Sebagai antisipasi saat listrik PLN putus. Jeda waktu peralihan dari listrik PLN ke genset diklaim hanya tiga detik.

Maintenance wahana dilakukan setiap hari. Sebelum bianglala beroperasi. Servis ringan dilakukan secara berkala. Setiap tanggal 12 setiap bulan. Pengecekan total dilakukan dua tahun sekali.

Servis berkala difokuskan pada sistem penggerak (engsel) yang berpelumas. Mulai as utama dan as setiap kabin. Bagian yang seret dilumasi grease. Atau diganti sparepart jika sudah rusak. Suku cadang yang digungkan juga tak sembarangan. Tak jarang harus diimpor dari luar negeri. Untuk suku cadang tertentu. Sebut saja miniature circuit breakers (MCB), earth leakage circuit breaker (ECLB), hingga programmable logic controller (PLC).

Riyadiyanta menegaskan, sparepart rusak wajib diganti. Karena sifatnya krusial. Termasuk untuk mengatur kecepatan putar bianglala. “Jadi tidak bisa diakali. Kalau nekat nanti imbasnya ke operasional wahana,” ujarnya.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Kembali pada insiden bianglala PMPS 2018, Haryadi Suyuti berjanji mengevaluasi total pelaksanaan sekaten. Khususnya terkait wahana permainan pasar malam. Masalah keamanan yang sejauh ini jarang diperhatikan menjadi prioritasnya. “Kami akan kaji tentang sertifikasi keamanan wahana permainan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan PMPS tahun depan Kasi Pengendalian dan Pengawasan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja Evi Wahyuni meminta pengelola wahana permainan anak menyiapkan sertifikat kelayakan fungsi operasional. Terutama wahana yang memiliki risiko keamanan dan kenyamanan bagi pengguna. “Lisensi keamanan harus resmi dari lembaga yang berwenang,” katanya. (dwi/yog/fj/mg3)