SLEMAN – Sepasang kekasih, perempuan berinisial PL, 18, dan pacarnya, JPT, 19, melakukan hubungan cinta kebablasan. Akibatnya, PL pun hamil. Mereka pun memutuskan untuk menggugurkan kandungan PL.

Aksi keduanya tersebut terkuak polisi. Keduanya melakukan rekonstruksi pengguguran kandungan. Berlokasi di kos kedua tersangka di Tambakbayan, Caturtunggal, Depok, kemarin.

Rekonstruksi tersebut memunculkan fakta bahwa PL mengetahui janin yang digugurkan masih bernyawa. PL berniat untuk merawatnya. Namun janin prematur itu akhirnya meninggal.

“Pelaku perempuan tahunya baru mengandung dua bulan. Ternyata sudah lima bulan. Saat dikeluarkan, janin sudah berbentuk dan kemungkinan masih hidup,” kata Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman, Iptu Bowo Susilo, Jumat (16/11).

Terungkap pula, janin hubungan PL dengan JPT tersebut tidak dikuret. Janin lahir normal layaknya melahirkan. Pemicunya, obat penggugur kandungan.

PL meminum tujuh pil obat penggugur kandungan sekaligus. Perempuan karyawan tersebut lalu merasakan kontraksi. Pasangan tersebut kemudian memeriksakan kandungan PL ke bidan di Ngentak, Caturtunggal, Depok.

“Upaya itu atas kesepakatan bersama, tidak ada paksaan. Alasannya, keduanya mau fokus bekerja. Obat penggugur kandungan dibeli online. Melahirkan secara normal di bidan tersebut,” ujar Bowo.

PL meminum ketujuh pil tersebut di beranda kamar kosnya. Keduanya ngekos dalam satu kamar yang sama. Setidaknya ada 24 adegan reka ulang. Diawali dari kos kedua tersangka di Tambakbayan, berpindah ke kuburan sisi timur kos. Lalu saat mendatangi bidan di Ngentak.

Selama reka ulang, PL menangis, sementara JPT terlihat tegar. Saat reka ulang, JPT berbicara kepada pemilik kos, Abadi, 58, mengenai pemakaman janin. Namun Abadi menyangkal.

Abadi mengakui kos miliknya adalah kos campur, pria dan wanita. Pria paro baya tersebut mengatakan bahwa yang ngekos adalah PL. JPT ikut menginap di kamar PL yang sudah dua bulan kos.

“Sehari-hari (PL) jarang bicara kalau bertemu saya. Tidak terlihat sedang hamil karena (PL) selalu pakai celana panjang,” ujar Abadi.

Kedua tersangka dijerat pasal 346 KUHP. Termasuk Pasal 80 Ayat (3) jo Pasal 76 C UU 17/2016 tentang Perlindungan Anak. Tindakan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan kematian. (dwi/iwa/by/mg3)