Segala perbedaan tak jadi masalah bagi warga Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo. Perbedaan justru menjadi penyatu dalam membangun integritas. Suasana itu sangat terasa dalam tradisi ruwatan Menoreh Jumat (16/11).

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

SITUS Jati Kembar berumur ratusan tahun itu menjadi saksi bersatunya warga Banjaroya yang terbingkai elok dalam budaya. Tradisi ruwatan Menoreh digelar sebagai ujud rasa syukur kepada Tuhan. Atas limpahan hasil bumi. Sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan menghindarkan diri dari bencana (tolak bala).

Ruwatan Menoreh juga diisi kegiatan pentas seni. Semua pengisi acaranya warga Banjaroya. Acara ini dihadiri ratusan warga. Dari 14 padukuhan. Kaum muda, tua, dan anak-anak.

Mereka terlihat cakap dalam menanamkan kebaikan. Kepada alam maupun sesama manusia. Nilai-nilai keberagaman sudah diasah ratusan tahun di desa itu. Dipertahankan sampai sekarang. Pemeluk Islam dan Nasrani hidup berdampingan. Damai. Sejak dulu.

“Tanah subur, sumber air melimpah. Perlu disyukuri. Tradisi kami pertahankan. Supaya tetap guyub sampai kapan pun,” ungkap Kepala Desa Banjaroya Anton Supriyono di sela kenduri ruwatan Menoreh.

Ruwatan Menoreh menarik perhatian Arie Sujito. Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Yang juga sosiolog itu. Dia sangat apresiatif atas perhelatan tradisi ruwatan. Terlebih pada keharmonisan hubungan antarpemeluk agama. Juga semangat mereka menjaga alam Menoreh. “Ini semacam metafora. Mengajarkan rakyat Indonesia untuk senantiasa menjaga alam. Di tengah krisis ekologis yang mengancam ruang hidup masyarakat,” ujarnya.

Bagi Arie, nilai tradisi ruwatan sangat relevan dengan kondisi masyarakat. Itu bisa menjadi cermin kehidupan. Bahwa rakyat Indonesia punya kemauan, pengalaman, dan kemampuan untuk membangun integrasi nasional. Momentum itu sekaligus menjadi bahan kritik Arie bagi para elit di tahun politik. Terutama bagi elit politik dan ekonomi yang bersaing tidak sehat. Dengan merusak kearifan lokal.

“Mereka harus banyak belajar dari warga Banjaroya,” usulnya.

“Mereka harus menyaksikan bagaimana warga dengan tradisi budaya ini menjawab krisis ekologi dan pembauran. Dengan landasan kecintaan kepada alam,” sambung Arie.

Dari alam pula masyarakat bisa belajar rasionalitas. Menghargai setiap prosesnya. Tradisi ini, kata Arie, harus menjadi pertimbangan. Bahwa keserakahan politik, keserakahan ekonomi, bahkan keserakahan hukum harus dihentikan. “Saya optimistis jika demokrasi Indonesia mau belajar dari rakyat di bawah, yang mengangkar kebudayaan lokalnya, maka ke depan akan lebih baik,” katanya.

Widya Ayu, 17, warga Plengan, Banjaroya, mengaku bangga meski tinggal di desa. Yang memiliki keragaman. Yang mampu guyub. Bersatu dalam kehidupan. “Kami sudah lama hidup berdampingan. Tidak pernah ada masalah,” ungkapnya.

Satu hal lagi, lanjut Widya, warga Banjaroya tidak terpengaruh hiruk pikuk politik. “Kami memiliki akar yang sama. Disatukan dengan budaya,” ujarnya.

Dia berharap semangat kebersamaan ini bisa tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga kehidupan masyarakat damai dan sejahtera. (yog/rg/mg3)