SLEMAN – Hingga kemarin pihak sekolah Kanisius Demangan Baru beranggapan jatuhnya siswi kelas VI akibat terpeleset. Sang siswi yang awalnya di dalam gedung terpeleset hingga terjatuh.

Sebelumnya, perwakilan sekolah Lesto Prabhancana Kusumo mengklaim bangunan sekolah sesuai standar. Namun dia mengakui bahwa jendela lantai dua dan tiga tidak berteralis. Alasannya untuk menghadirkan suasana yang friendly bagi siswa.

“Dari segi interior dan arsitektur jendela gedung sekolah idealnya memang ada teralisnya. Apalagi jika berada di lantai dua ke atas. Untuk memberikan rasa aman dan menghindari peristiwa yang tidak diinginkan,” jelas arsitek Hendra Budi P, 31, Kamis (15/11).

Pemilik Kantor Selaras Arsitek ini menjelaskan tidak selamanya teralis bersifat kaku. Saat ini banyak model yang bisa diadaptasi menjadi sebuah teralis. Alhasil besi pengaman tersebut bisa turut mempercantik bangunan sekolah.

Pertimbangan tidak memasang teralis juga harus memiliki alasan kuat. Berada di lantai terbawah dan jarak dengan tanah tidak jauh. Tujuannya ketika ada individu yang keluar dari jendela tidak terluka.

“Terpenting adalah jendela yang dipasang itu berhubungan dengan lingkungan luar atau tidak. Jika masih di dalam halaman sekolah dan ketinggian dari jendela ke tanah masih aman, tidak diberi teralis tidak masalah,” katanya.

Di satu sisi untuk menghadirkan sisi friendly tidak hanya terfokus pada jendela. Untuk sebuah gedung sekolah bisa memanfaatkan ruang hijau dan permainan warna. Dia mencontohkan warna cat tembok yang hadir dengan warna-warna cerah.

Permainan desain interior dan arsitektur tersebut turut memengaruhi psikologi siswa dan guru. Hendra meyakinkan konsep tersebut bukan hanya sekadar isapan jempol. Setidaknya bentuk interior dan arsitektur dapat menunjang proses belajar mengajar di sekolah.

“Bisa jadi terkesan seperti penjara jika teralis desainnya kaku. Sebenarnya bisa eksplorasi dengan memasukkan logo sekolah sebagai desain teralis. Ditunjang dengan desain ruangan lain agar siswa betah di sekolah,” ujarnya.

Sekolah juga berperan meredam beban psikis anak. Tidak sedikit anak yang memiliki masalah di rumah. Semuanya terbawa saat menjalani proses belajar mengajar. Stres tersebut bertambah saat kondisi lingkungan sekolah juga tidak kondusif.

“Unsur alam bisa mereduksi beban stres anak. Sehingga beban yang terkadang bukan dari sekolah bisa melunak. Selain bagus buat proses belajar juga psikis anak bahkan juga gurunya,” jelasnya.

Kabid SD Dinas Pendidikan Sleman, Dwi Warni Yuliastuti mengungkapkan ada evaluasi bangunan. Hasil pengawasan tim ada kekurangan struktur bangunan. Terutama tidak adanya teralis sebagai pengaman.

Saat peristiwa terjadi, tidak ada guru yang menemani siswi tersebut. Hanya saja, kondisi kelas memang masih ada siswa. Terlebih saat itu baru saja berlangsung kegiatan ekstrakurikuler melukis. Tim pengawas Disdik Sleman belum memintai keterangan korban dan teman-temannya.

“Info yang kami dapat, proses pembangunan belum selesai. Tapi kami meminta sekolah menyempurnakan bangunan dengan teralis. Besok (Jum’at) akan bertemu lagi dengan pihak sekolah. Belum ke siswanya karena pertimbangan psikis mereka,” ujarnya. (dwi/iwa/er/mg3)