SLEMAN – Ngayogjazz 2018 digelar di wilayah selatan DIJ. Tepatnya di Desa Gilangharjo. Desa yang terletak di Kecamatan Pandak itu sengaja dipilih untuk lokasi penyelenggaraan event musik yang memasuki tahun ke-12. Lantaran kental dengan nilai sejarah Mataram.

”Yaitu, nilai peradaban baru bumi Mataram. Warganya pun syarat akan nilai-nilai yang tertanam sejak dulu. Seperti budi pekerti yang erat kaitannya dengan budaya dan pluralisme,” ujar Supriyanto, perwakilan sekaligus tokoh masyarakat Desa Gilangharjo saat jumpa pers di Innside by Melia Kamis (15/11).

Lurah Desa Gilangharjo Pardiono mengapresiasi event yang digelar Sabtu (17/11) itu. Menurutnya, Ngayogjazz 2018 dapat mempromosikan kebudayaan dan situs di Gilangharjo. Salah satunya Selo Gilang. Situs ini pernah menjadi calon lokasi pendirian keraton Mataram Islam.

”Namun tidak jadi karena terlalu dekat dengan wilayah Ki Ageng Mangir,” ucapnya.

Seperti pemerintah desa, Pardiono menyebut warga Gilangharjo juga merespons positif. Dia berharap event ini bisa menambah pengalaman, akulturasi, serta peningkatan ekonomi masyarakat. Sebab, berbagai kesenian tradisional dari 15 pedukuhan di Gilangharjo akan ikut memeriahkan pergelaran Ngayogjazz 2018. Seperti tari tradisional, gejog lesung, dan drum blek.

Menurutnya, rute perjalanan ke arah Desa Gilangharjo tidak sulit. Dari Jogja, pengunjung langsung menuju ke arah selatan. Melalui Jalan Bantul. Setelah melewati Simpang Empat Palbapang, pengunjung bakal melihat petunjuk arah Ngayogjazz. Petunjuk ini mengarahkan pengunjung untuk belok kanan.

”Kemudian lurus hingga SDN Bantulan, Kauman, Gilangharjo. Gerbang Ngayogjazz nantinya akan berada di sekitar SD,” tuturnya.

Di tempat yang sama, pengamat seni dan budaya UGM Kris Budiman mengatakan, Ngayogjazz tidak hanya menyuguhkan konsep festival musik jazz. Lebih dari itu, juga mengangkat aspek kultural dari budaya lokal. Khususnya budaya lokal tempat penyelenggaraan.

”Tema besar yang diangkat dan konsepnya selalu menyangkut masalah sosial politik yang sedang terjadi. Visualitasnya tetap menyatu dengan konsep festival,” ungkapnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Ngayogjazz 2018 mengusung tema unik. Kali ini panitia menggunakan tema Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara. Tema itu sebagai jawaban atas fenomena yang terjadi dan berkembang di masyarakat. Sebab, tema itu plesetan dari peribahasa Jawa: Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata.

Ngayogjazz 2018 akan menghadirkan lebih dari 40 kelompok musik dan ratusan seniman. Baik dari Indonesia maupun mancanegara, seperti Perancis, Belanda, Spanyol dan Italia. Musisi Jazz ternama Tompi juga akan hadir dalam pesta tahunan musik jazz ini. (ita/zam/fj/mg3)