Badan Lingkungan Hidup (BLH) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) proaktif mendorong upaya-upaya pengelolaan sampah berbasis di masyarakat. BLH DIY sejak awal menyadari pengelolaan sampah tak mungkin hanya mengandalkan keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA). Sangat riskan. Terjadi berbagai masalah lingkungan.

SALAH satu model pengelolaan sampah berbasis masyarakat antara lain seperti bank sampah. BLH DIY terus menjaga bank-bank sampah yang terbentuk di tingkat basis seperti RT, RW dan pedukuhan se-DIY agar tetap eksis. Bahkan berkelanjutan dan berkembang.

Berbagai upaya peningkatan kapasitas bagi pengelola bank sampah dilakukan. Di antaranya dengan pemberian pelatihan daur ulang sampah. Hasilnya cukup menggembirakan.

Banyak bank sampah di kabupaten dan kota se-DIY mampu menghasilkan beragam produk dari sampah daur ulang. Bank-bank sampah itu saat ini telah membentuk wadah bernama Jejaring Pengelola Sampah Mandiri atau (JPSM).

JPSM terbentuk di empat kabupaten dan satu kota se-DIY. JPSM juga membentuk forum di tingkat DIY. Seiring dengan itu, BLH DIY juga memfasilitasi pemasaran JPSM. Fasilitasi itu dengan mengadakan sejumlah pameran produk daur ulang.

Tahun ini pameran dipusatkan di lantai satu Mal Malioboro di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Lima JPSM se-DIY diberikan kesempatan memamerkan aneka produk unggulan daur ulang. Pameran berlangsung selama 15 hari dari 14 hingga 28 November 2018.

“Stan ini memberikan ruang memasarkan produk daur ulang sampah kami,” ujar Ketua JPSM Kota Yogyakarta Sri Rahayu Kamis (15/11).

Perempuan yang akrab disapa Cici ini mengatakan, ada ratusan barang daur ulang yang dipamerkan. Produk-produk itu seperti tas, aksesoris, vas bunga, kaca rias dan lainnya. Selain itu, JPSM Kabupaten Bantul juga menyediakan zona edukasi konsultasi bank sampah dan daur ulang. Sarana yang digunakan menyerupai kartu remi.

“Ini bisa untuk sarana permainan ringan dan menarik,” ujar Cici sambil menunjukan kartu tersebut. Cici berharap lewat pameran itu memberikan dampak positif di masyarakat. Pameran daur ulang itu menjadi media eduksi mengelola sampah yang ramah lingkungan.

“Ramah lingkungan itu dengan memanfaatkan produk-produk daur ulang. Barang-barang yang kami pamerkan 90 persen bahan daur ulang,” terang penggiat lingkungan ini.

Tentang edukasi itu, Cici tetap berpijak pada konsep 3R. Yakni reduce, reuse dan recycle. Konsep 3R terus dikampanyekan guna dipraktikkan di tengah masyarakat. Secara detail, dia menerangkan makna reduce adalah mengurangi sampah dengan meminimalkan pemakaian barang atau benda yang tidak terlalu dibutuhkan.

“Misalnya kurangi pemakaian kantong plastik,” katanya.

Kantong plastik termasuk sampah rumah tangga yang paling sering dijumpai. Kantong plastik dipakai sekali, lalu dibuang. Padahal plastik merupakan sampah yang perlu ratusan tahun agar terurai kembali.

“Pakailah tas kain yang bisa dipakai berulang-ulang,” ajaknya.

Selanjutnya, masyarakat mengatur pembelian kebutuhan rumah tangga secara rutin. Sekali sebulan. Atau sekali dalam satu minggu. Kemudian mengutamakan membeli produk berwadah agar bisa diisi ulang. Membeli produk atau barang yang tahan lama.

Sedangkan reuse adalah memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru. Sampah rumah tangga yang bisa digunakan seperti koran bekas, kardus bekas susu, kaleng susu, wadah sabun lulur dan lainnya.

Barang-barang tersebut dapat diolah menjadi tempat menyimpan tusuk gigi atau cotton-but. Selain itu, barang-barang bekas dapat dimanfaatkan oleh anak-anak. Misalnya memanfaatkan buku tulis lama jika masih ada lembaran yang kosong bisa dipergunakan untuk corat coret. Buku-buku cerita lama dikumpulkan untuk perpustakaan mini di rumah. “Menggunakan kembali kantong plastik belanja, untuk belanja berikutnya,” terang Cici.

Adapun recycle berupa daur ulang kembali barang lama menjadi barang baru. Contohnya, sampah organik dimanfaatkan sebagai pupuk. Sampah anorganik bisa didaur ulang dan bisa digunakan kembali.

Contohnya mendaur ulang kertas yang tidak digunakan menjadi kertas kembali. Botol plastik bisa di sulap menjadi tempat alat tulis atau plastik detergen dan susu bisa di jadikan tas cantik, dompet dan lainnya.

Dengan pameran itu, Cici berharap pengunjung Mal Malioboro bisa singgah di stan produk daur ulang tersebut. Banyak produk daur ulang yang menarik. Plus berkualitas. “Kami berharap, dari hari ke hari, pengunjung yang datang makin banyak,” ungkapnya.

Intansari, salah satu pengunjung mengaku tertarik melihat aneka barang daur ulang. Dia menilai produk yang dipamerkan itu termasuk karya kreatif. (kus/gp/mg3)