BANTUL – Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan kondisinya semakin memburuk di musim hujan. Selain overload sampah, musim hujan membuat area tersebut becek dan penuh lalat.

Tidak hanya bau busuk yang ditimbulkan. Melainkan juga bau kotoran sapi yang tercampur dengan tanah dan sampah.

Pengelola TPST Piyungan, Sarjani mengatakan, TPST mengalami overload sampah sejak 2010. Setiap hari menampung sampah hingga 600 ton dari Bantul, Kota Jogja, dan Sleman.

”Pada musim hujan, jalan menjadi licin. Meratakan sampah lebih sulit,” ujar Sarjani Kamis (15/11).

Air hujan dicegah agar tidak mengalir ke area permukiman warga. Pengelola pun membangun saluran air dengan kedalaman dan lebar 1,5 meter.

Saluran tersebut diharapkan menjadi jalur air yang kemudian masuk ke kolam lindi. Letaknya di sebelah timur permukiman warga.

Kolam lindi tersebut selain digunakan menampung air resapan hujan, juga untuk filtrasi air. Mengubah air lindi menjadi air netral, yang nantinya dibuang ke Sungai Winongo.

Proses filtrasi bernama teknik netralisasi air lindi tersebut dilakukan dengan penyaringan menggunakan saringan, pasir kwarsa, dan ijuk. ”Ada penambahan zat kimia. Tujuannya agar air netral. Sehingga di buang ke sungai aman,” paparnya.

Bahan kimia yang digunakan berupa tawas, kaporit, sokir, soda api, TSP dan PK. ”Kami sudah berupaya mengolah dengan bahan kimia tersebut. Hanya sebatas menetralisir, mengurai kandungan bakteri,” tuturnya.

Mujiem, 44, warga Dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan, mengatakan, tak ada masalah dengan resapan air. Mereka sudah tidak mengandalkan sumber air dari sumur.

Mereka mengandalkan air PDAM sejak 10 tahun lalu. ”Yang saat ini menjadi masalah adalah bau dan lalat,” ujar Mujiem. (cr6/iwa/er/mg3)