GUNUNGKIDUL – Hujan mulai turun. Petani di Gunungkidul sedang menyiapkan lahan pertaniannya. Salah satu faktor penting yang perlu diawasi adalah pemenuhan kebutuhan pupuk bersubsidi.

Diperlukan pengawasan dalam pendistribusian pupuk bersubsidi tersebut kepada petani. Dengan demikian distribusi benar-benar tepat sasaran dan sesuai aturan. Target dari pemerintah Pusat untuk lahan luas tambah tanam (LTT) padi tahun ini terpenuhi.

Kepala Bidang Bina Produksi, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, pupuk organik bersubsidi Petroganik tersalur 192 ton atau 17,63 persen dari total kuota 1.093 ton.

“Urea telah tersalur 6.317 ton atau 52,96 persen dari total kuota urea bersubsidi 11.930 ton se-Gunungkidul,” kata Raharjo Kamis (15/11).

Realisasi penebusan pupuk berdasar laporan sampai akhir September 2018, pupuk NPK bersubsidi tersalur 3.474,9 ton atau 60,28 persen dari total kuota NPK bersubsidi sejumlah 5.765 ton. Pupuk SP36 bersubsidi tersalur 573,61 ton atau 63 persen dari total kuota 907 ton, pupuk ZA bersubsidi tersalur 498,3 ton atau 41,22 persen dari total kuota 1.209 ton.

Pihaknya memastikan, pupuk bersubsidi aman dan telah sampai ke tangan petani yang tergabung dalam kelompok tani (poktan). Selain ketersediaan pupuk, pihaknya juga telah menyalurkan benih ke sejumlah kecamatan.

“Untuk pengawasan, kami bekerjasama dengan kepolisian,” tegasnya.

Kapolres Gunungkidul AKPB Ahmad Fuady mengimbau semua pihak tidak menyalahgunakan pupuk bersubsidi. “Untuk mengantisipasi penyelewengan pupuk, kepolisian mengoptimalkan peran babinkamtibmas,” katanya.

Petani di Lemahbang, Paliyan mulai beraktivitas menanam padi. Di lokasi tersebut merupakan lahan tadah hujan. Model penanaman dengan menggunakan tonjo atau alat yang berfungsi untuk membuat lubang di tanah.
“Sistem tonjo membuat padi yang ditanam tumbuh rapi saat sudah tumbuh,” kata Niadi, warga setempat. (gun/iwa/er/mg3)