SLEMAN – Kepolisian angkat bicara terkait insiden terjatuhnya siswi kelas 6 sebuah sekolah dasar di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok. Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yuliyanto memastikan, insiden tersebut terkait keamanan publik. Gedung tersebut merupakan salah satu fasilitas pendidikan.

Pria yang pernah menjabat Kapolres Sleman pada medio 2016 tersebut meminta pihak sekolah lebih teliti. Meski alasannya gedung yang friendly, bukan berarti menghilangkan faktor keamanan dan keselamatan. Apalagi bangunan berdiri hingga tiga lantai.

“Pengelola gedung, dalam hal ini sekolah, harus memastikan orang yang ada di situ aman. Entah itu untuk siswa atau gurunya. Apalagi kalau dilihat dari insiden ini adalah gedung bertingkat. Bagaimana tingkat keamanannya?” tanya Yuliyanto ditemui di Mako Brimobda DIJ Gondowulung, Rabu (14/11).

Terkait dugaan adanya kelalaian, pihaknya belum bisa memastikan. Apakah mengarah pada tindakan pidana? Jajarannya memerlukan penyelidikan hingga penyidikan. Tujuannya untuk menemukan penyebab insiden.

“Ada faktor kelalaian atau tidak? Tentu harus diperiksa menyeluruh. Tidak serta merta hanya berdasarkan informasi yang sedikit,” ujar Yuliyanto.

Insiden jatuhnya siswi dari gedung bertingkat seakan adem ayem. Hingga Rabu (14/11), belum ada laporan dari sekolah maupun orang tua siswi. Tidak adanya laporan dibenarkan Kapolsek Depok Barat, Kompol Sukirin Hariyanto.

Meski begitu, Sukirin tidak berdiam diri. Setidaknya, sebagai langkah awal, Sukirin telah menugaskan personelnya ke lokasi jatuhnya siswi. Selain menemui pihak sekolah, juga memintai keterangan saksi.

Hasil investigasi sementara, insiden terjadi saat kegiatan ekstrakurikuler, di luar jam sekolah. Lokasi jatuhnya korban merupakan ruang kosong. Ruangan tersebut sebagai ruang rapat dan ekstrakurikuler.

“Kami fokus mendalami di ruangan lantai tiga. Setelah kejadian itu, pihak sekolah mengajukan permohonan untuk biaya teralis. Memang belum ada laporan, tapi kami mendorong sekolah segera melapor. Sejauh ini, pihak keluarga juga tidak mempermasalahkan kasus tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan pengumpulan informasi, jajarannya berhasil mendapatkan sejumlah data. Meski enggan menyebutkan nama, Sukirin membenarkan korban adalah siswi kelas 6. Anak perempuan tersebut tercatat lahir pada 2006 di Jakarta.

Kesehariannya, siswi tersebut cukup cerdas. Namun kepribadiannya cenderung tertutup. Para guru, kata Sukirin, juga mengakui bahwa siswi tersebut sedikit tertutup. Untuk keterangan dari korban, Sukirin masih menunggu kondisi fisik dan psikis korban pulih.

“Keterangan baru kami dapat dari lokasi, guru dan saksi-saksi. Nanti tahap berikutnya (korban), jika sudah pulih kondisinya. Saat ini (korban) masih opname di RS Panti Rapih. Baru saja menjalani operasi patah tulang,” kata Sukirin.

Investigasi juga dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman. Tim pengawas meminta keterangan saksi maupun guru. Selanjutnya, hasil laporan menjadi bahan investigasi Disdik Sleman.

“Tim pengawas dari Kecamatan Depok dan Kasi Kelembagaan Kesiswaan konfirmasi langsung ke sana (SD lokasi kejadian). Tapi sampai sore ini (Rabu 14/11) belum menerima laporan lengkap. Sementara baru mendapatkan informasi siswi itu terpeleset,” kata Kepala Disdik Sleman, Sri Wantini. (dwi/iwa/rg/mg3)