Hasil kerja keras tak pernah berbohong. Kegandrungannya dengan dunia teknologi informasi, mengantarkan Muhammad Zain Nabhan menggondol medali emas dalam Global IT Challenge for Youth with a Disability 2018 di India.

DWI AGUS, Jogja

Nama Muhammad Zain Nabhan belakangan menjadi buah bibir. Prestasinya mengangkat nama Kota Jogja. Bahkan, Indonesia. Ya, di usianya yang masih belia, siswa SMK Muhammadiyah 2 Jogja ini mampu berbicara banyak di level internasional. Dengan keterbatasannya, penyandang disabilitas mental ini sukses menggondol medali emas. Dalam ajang Global IT Challenge for Youth with a Disability 2018 di India.

”Dari kategori e-creative,” tutur Zain saat ditemui SMK Muhammadiyah 2 Jogja Rabu (14/11).

Dalam kategori ini, Zain tidak sendiri. Dia satu tim bersama tiga peserta lain. Peserta dari Semarang, Balikpapan, dan Jakarta ini juga penyandang disabilitas. Ada yang tunarungu, tunanetra, dan tunadaksa.

Dengan segala keterbatasan, mereka harus berkompetisi dengan perwakilan dari berbagai negara. Merancang aplikasi game. Dengan program scratch.

Zain bersama tiga temannya harus bekerja keras untuk merancang aplikasi game pesawat. Apalagi, di antara mereka memiliki keterbatasan berbeda. Namun, dengan modal saling percaya dan mengandalkan komunikasi kelompok, Zain dkk berhasil mengalahkan ratusan kontestan lainnya. Aplikasi game pesawat itu sukses mereka buat dengan singkat. Hanya 15 menit.

”Jadi game-nya itu seperti pesawat menembak objek di atasnya,” kenang Zain menyebut setiap kelompok hanya diberikan waktu 30 menit untuk merancang aplikasi.

Sukses Zain di level internasional tidak kebetulan. Sejak lama, Zain memang gandrung dengan dunia teknologi informasi. Dia sehari-hari bersinggungan dengan berbagai program komputer. Kendati begitu, remaja kelahiran Sleman 21 Juli 2001 ini tetap serius mempersiapkan diri sebelum berangkat ke India. Dia serius melatih diri dengan mempelajari berbagai soal secara online. Materi soal itu didapatkannya dari Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Jakarta.

”Sempat berlatih bersama dengan teman-teman lain saat di Jakarta, tapi hanya beberapa hari saja,” tutur anak pasangan Igun Supriyadi-Niken Wulanjari ini.

Ketika di India, Zain dkk sebenarnya mengikuti beberapa kategori. Seperti e-tool, e-life map, dan e-contens. Namun, mereka kalah bersaing dengan kontestan lain. Sebab, berbagai kategori ini tidak hanya mengandalkan keahlian dalam mengoperasikan komputer. Melainkan juga kecakapan dalam berbahasa Inggris.

”Contohnya, menjabarkan pelajaran Biologi dengan bahasa Inggris. Ini sulit,” katanya.

Bagi Zain, berkompetisi di luar negeri tidak hanya berat melawan peserta lain. Namun, juga berat melawan rasa rindu. Terutama, rasa rindu kedua orang tuanya dan masakan rumah. Maklum, Zain harus meninggalkan rumah sejak awal November. Betapa tidak, Zain harus tiba di Pusdiknas Jakarta 3 November. Untuk menjalani latihan hingga 5 November. Sementara perlombaan dimulai 8-12 November.

”Ada roti, tapi kurang terlalu suka. Akhirnya makan kari ayam plus nasi. Rasanya hampir mirip dengan masakan rumah. Lumayan bisa mengobati,” ujarnya lalu tertawa.

Dari India, Zain tidak hanya membawa pulang medali emas. Dia juga mendapatkan uang pembinaan sebesar 300 USD. Bagi remaja seusianya, uang tersebut sangat berarti. Namun, dia memilih untuk menabungnya.

“Ditabung dulu, rencana mau buat tambah-tambah buka usaha sendiri. Besok rencana mau buat usaha sablon kaos dan mug, sesuai dengan ilmu teknik komputer jaringan. Apalagi dapat ilmu baru saat ikut lomba-lomba (GITC),” katanya.

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Jogja Muhaimin ikut mendampingi Zain selama di India. Baginya, Zain adalah sosok siswa yang berprestasi. Meski memiliki disabilitas mental, dia terbukti bisa beprestasi dalam ajang internasional.

“Sangat bangga, karena bersaing dengan 106 peserta dari 24 negara,” tambahnya. (zam/fj/mg3)