JOGJA – Sisa-sisa bangunan komplek Tamansari tidak hanya yang seperti terlihat saat ini. Ternyata masih ada bangunan bekas pos jaga prajurit yang masih utuh. Tapi bangunan tersebut tidak terlihat karena menjadi pintu masuk ke kamar.

Ya dua pos jaga yang terletak di sisi barat komplek Tamansari itu saat ini menjadi bagian dari rumah warga di RT 36/RW 09 Taman Kraton. Bentuknya masih terlihat baik. Tapi saat ini dipakai sebagai pintu masuk kamar tidur.

Salah satu orang yang menjadikan situs Tamansari dijadikan tempat tinggal adalah Sugeng Raharjo. Pria 75 tahun itu menjadikan salah satu bagian situs Tamansari itu sebagai pintu masuk ke kamar anaknya. Raharjo mengaku sudah sejak akhir 1940-an menempati bagian situs budaya untuk digunakan sebagai rumah.

Saat Radar Jogja bertamu ke rumah Raharjo Rabu (14/11), bangunan cagar budaya tersebut tertutup dengan fisik rumah. Tapi saat masuk kedalam rumah, dari ruang tamu terlihat ada bagian tembok tua dengan tampilan mirip dengan peninggalan budaya.

“Kalau yang dirumah saya namanya Jogo Runo. Kalau tidak salah dulunya disini merupakan gerbang untuk masuk dan piket penjaga,” jelasnya.

Satu bangunan serupa juga masih utuh. Lokasinya berada juga di dalam rumah warga. Tepat di utara rumah Raharjo.

DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER. (GRAFIS: HEPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Raharjo mengisahkan awal menempati situs ini adalah ketika orang tuanya membangun rumah di sebelah situs yang dibuat zaman Hamengku Buwono (HB) I itu. Seiring dengan bertambahnya anggota keluarga, rumah mereka diperlebar dengan mengitari situs.

“Kami tidak pernah merubah bentuk asli bangunan. Tapi karena gempa sekitar 1950-an, sehingga menghancurkan beberapa bagian,” tuturnya.

Pria yang pernah menjadi saksi penjajahan ini juga mengisahkan pada saat muda, kampungnya yang sekarang merupakan bagian dari Pulau Cemeti dan Tamansari seluruhnya. Masih ada beberapa tetangganya yang menggunakan bagian situs sebagai rumahnya. Termasuk ada saluran air di bawah rumah.

“Dulu waktu masih muda banyak situsnya. Tapi kemudian orang pasar yang dari desa sama tukang becak pada menempati bangunan situs untuk tinggal,” jelas pria yang berprofesi sebagai pembatik itu.

Sekarang sudah lebih dari 70 tahun, Raharjo dan keluarganya menempati bagian situs ini. Dirinya juga sering mendengar kabar bahwa akan ada rencana pemugaran situs ini. Terkait hal itu Raharjo mengaku tidak keberatan.

“Beberapa kali memang sering dengar bakal ada pemugaran. Bahkan sejak dulu, sampai ada rencana bedhol desa, kalau saya pasrah saja,” ungkapnya.

Terkait dengan isu akan dipugarnya kawasan Tamansari, Ketua RT 36 Taman Antonius Sasongko mengaku itu sudah sejak lama didengarnya. Tapi hingga Rabu (13/11), pria yang akrab disapa Koko itu mengaku belum ada sosialisasi. Yang ada baru sosialisasi pengukuran Sultanat Groond (SG) dari BPN. “Baru itu (rencana pengukuran), kalau isu mau dipindah sudah ada sejak saya kecil,” katanya.

Pria yang dikenal sebagai penggagas Kampoeng Cyber itu juga menyebut para warga yang tinggal di sana, mayoritas tinggal di atas tanah megersari Keraton Jogja. Jadi warga pasrah dengan kehendak Keraton. “Ada informasi rumah warga yang nempel situs harus dikepras dua meter, warga juga menerima,” ungkapnya.

Itu diamini Raharjo yang menyatakan terimakasih karena selama ini sudah diberi izin oleh Keraton untuk menempati rumahnya. Dengan izin Keraton itulah hingga sampai sekarang dia bisa mengembangkan usaha batiknya dan menyekolahkan anak cucunya.”Saya malah yang harusnya minta maaf,” jelasnya sambil terkekeh.

Dikonfirmasi terpisah Kepala Seksi Perlindungan dan Pengembangan Balai Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya (PWBCB) Dinas Kebudayaan DIJ Agus Suwarto mengatakan belum mendapat kabar tentang pemugaran situs Tamansari. “Kalau ada mungkin itu bukan dari Disbud DIJ,” tuturnya. (cr5/pra/mg3)