BERMANFAAT BAGI KESEHATAN: Ketua Satgas Gemipel Harnowati (tiga dari kiri) bersama camat Ngaglik, kepala Desa Minomartani dan panitia hari jadi usai penanaman pohon kepel di halaman Balai Desa Minomartani.

Desa Minomartani, Ngaglik, Sleman baru saja memperingati Hari Jadi ke-72. Sejumlah kegiatan digelar selama tiga hari berturut-turut sejak Jumat (9/11) hingga Minggu (11/11) lalu.

Kepala Desa Minomartani Edi Suroto menjelaskan, Festival Hadrah menjadi acara pembuka Gelar Budaya Minomartani 2018 pada Jumat (9/11) malam. Malam berikutnya dilanjutkan Pentas Badui pada Sabtu (10/11).

“Puncaknya pada Minggu (11/11) pagi, kami adakan senam, jalan sehat dan dengan star di Dusun Tegalrejo dan finish di balai desa. Setelah itu dilanjutkan dengan gowes,” jelas Edi Rabu (14/11).

Siangnya juga berlangsung lomba gambar dan mewarnai serta pentas jatilan. Malamnya digelar pentas wayang kancil. Pelaksanaan gelar budaya itu seluruhnya dipusatkan di Balai Desa Minomartani.

Masih dalam rangkaian peringatan hari jadi, juga diadakan Gelar Potensi RW se-Desa Minomartani. Setiap RW menampilkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah. “Ada sentra bakpia, kerajinan dan pengelolan sampah lingkungan. Semua ditampilkan,” lanjut Edi.

Selain itu, dilakukan penanaman pohon kepel. “Seperti kita ketahui pohon kepel adalah ikonnya DIY. Minomartani memelopori kembali menanam kepel,” ujar Ketua Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Minomartani Peduli Lingkungan (Gemipel) Harnowati.

Pohon kepel atau stelechocarpus burahol telah ditetapkan sebagai flora identitas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dasarnya dengan Keputusan Gubernur DIY No. 385/KPTS/1992 tentang Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah Propinsi DIY.

Penanaman pohon kepel dilakukan secara simbolis oleh Camat Ngaglik Subagyo didampingi Kepala Desa Minomartani Edi Suroto dan Ketua Panitia Hari Jadi Minomartani Artono.

“Pohon kepel ditanam di halaman balai desa. Ini sebagai gerakan cinta lingkungan sekaligus meneguhkan identitas DIY,” ujar Harnowati yang juga mantan kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY ini.

Sebagai flora identitas, kepel memiliki makna filosofis. Kepel juga sering disebut kepel watu. Kepel berarti genggaman tangan manusia. Atau greget (niat) dalam bekerja. Sedangkan watu berarti dasar. “Pohon kepel melambangkan manunggaling sedya kaliyan gegayuhan. Ini berarti bersatunya niat dengan kerja,” ungkap dia.

Lebih jauh dikatakan, dominasi kepel tersebar di Sleman, Bantul dan Kota Jogja. Buah Kepel mempunyai manfaat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal dan mengurangi bau badan.

“Zaman dahulu, putri-putri keraton memanfaatkannya sebagai deodoran. Daun kepel bisa dimanfaatkan mengatasi asam urat. Lalap daun kepel dapat menurunkan kadar kolesterol,” terangnya. (sce/kus/rg/mg3)