JOGJA – Kabar gembira bagi pasangan yang akan menikah akhir tahun ini. Selain buku nikah, pengantin juga akan memiliki kartu nikah atau Simkah.
“Tapi ini (Simkah) tak berlaku bagi yang sudah menikah lama. Atau sebelum Simkah diluncurkan 8 November lalu,” ungkap Kepala Seksi Pemberdayaan Kantor Urusan Agama, Kanwil Kementerian Agama DIJ Jauhar Mustofa kepada Radar Jogja Selasa (13/11).

Simkah terintegrasi dengan laman pendaftaran nikah di www.simkah.kemenag.go.id. Simkah versi online dibuat guna meningkatkan dan mempermudah pelayanan masyarakat. Untuk mengakes pendaftaran nikah. Sehingga seseorang yang sibuk bekerja tetap bisa mendaftarkan nikah tanpa harus mengambil cuti atau menunggu libur. “Itulah keunggulan Simkah versi web. Seseorang yang sudah ada rencana nikah tapi belum sempat ke KUA bisa daftar dulu secara online,” jelasnya.

Melalui aplikasi tersebut calon pengantin dapat memesan tanggal, hari, lokasi pernikahan, hingga memilih penghulu. Ketersediaan jadwal seluruh penghulu dari semua KUA terdaftar di laman itu. “Penghulu A kosongnya jam berapa, bisa milih. Kalau pukul 09.00 sudah ada yang pesan ya berarti jam lain atau hari lain,” paparnya.

Hanya, untuk keperluan verifikasi data pemohon tetap harus datang ke KUA yang dituju. Kartu Simkah berisi nama, foto pasangan, dan QR Code di bagian depan. Di bagian belakang terdapat kutipan surat Ar-Rum ayat 21 dan hologram Kemenag RI sebagai tanda kartu asli. Jika dipindai, QR code berisikan data digital yang sama seperti di buku nikah. Data diri suami, istri, wali, mas kawin, dan lain-lain. “Misal kalau mau menginap di hotel. Pasutri bisa menunjukkan kartu ini. Sehingga tak repot bawa buku nikah,” ujarnya.

Jauhar memastikan tidak ada penambahan biaya untuk fasilitas ini. Biaya pendaftaran menikah di KUA tetap gratis. Sedangkan nikah di luar KUA dikenakan biaya tetap Rp 600.000. Proses mendapatkan Simkah tidak lama. Bareng dengan terbitnya buku nikah.

Dia menyesalkan beredarnya kabar yang menyebutkan kartu nikah sebagai pengganti buku nikah. Per 2020 mendatang. Itu tak benar. Ditegaskan, kartu nikah berfungsi sebagai pendamping buku nikah. Itu merupakan fasilitas layanan baru di KUA. Dari Kemenag. Untuk mempermudah administrasi nikah. Bukan lantaran stok buku nikah habis.

(GRAFIS: HEPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Jauhar mengimbau masyarakat tak perlu khawatir kehabisan buku nikah. Karena stoknya dicetak tiap tahun. Sebagai gambaran, lanjut Jauhar, selama 2019 telah tersedia 25 ribu buku nikah tercetak. Semuanya telah dibagikan di seluruh KUA di DIJ. “Jadi kalau dibilang 2020 buku nikah habis, keliru itu,” tegasnya.

Kendati demikian, Jauhar mengakui belum semua KUA memiliki printer kartu nikah. Karena keterbatasan anggaran. Pengadaan printer paling cepat Desember ini. Pengadaan printer Simkah menggunakan dana APBN. Sehingga tidak membebani anggaran daerah. Pemerintah pusat mengalokasikan anggaran hingga Rp 400 juta untuk tiga kabupaten dan kota di DIJ. Yakni 17 KUA di Bantul, Sleman (17), dan Kota Jogja (14). Sedangkan 20 KUA di Gunungkidul dan Kulonprogo dianggarkan tahun depan.

Menurut Jauhar, masyarakat DIJ termasuk yang paling tinggi memanfaatkan Simkah versi web. Namun diakuinya beberapa KUA memiliki kendala koneksi dan sinyal internet. “Kami terus sosialisasikan layanan baru ini. Termasuk pendampingan penerapan aplikasi Simkah web di setiap KUA,” katanya.

Kehadiran Simkah disambut positif calon pengantin di DIJ. Seperti dituturkan Atikah Dwi, 23. Dia menilai Simkah lebih praktis. Sebagai tanda bukti sudah menikah. “Ketika butuh untuk keperluan tertentu, nggak harus berat bawa buku nikah,” ujar warga Bantul yang berencana menikah tahun depan.

Hersinta Retno, 24, warga Jogja, sempat mengira kartu nikah akan menggantikan peran buku nikah. Dia khawatir tak bisa foto seremoni sambil menunjukkan buku nikah. Seperti umumnya yang dilakukan pasangan usai menikah. “Tapi lebih baik jika penerbitan kartu nikah dibarengi dengan aturan atau keterangan. Jika sewaktu-katu kartu tersebut hilang atau rusak,” usulnya. (tif/yog/rg/mg3)