PURWOREJO – Sembilan gunungan yang dibentuk dari aneka jenis makanan menjadi persembahan SMK PN-PN2 dalam peringatan hari ulang tahun mereka yang jatuh bersamaan Hari Pahlawan. Persembahan itu sengaja diarak dari kawasan SD Kliwonan di seputar Alun-Alun Purworejo dan menempuh rute sejauh hampir 5 kilometer sebelum mencapai kampus yang ada di Jalan Kesatrian, Sabtu (10/11).

Dari gunungan yang ada, tujuh di antaranya dipersembahkan dan bisa diperebutkan oleh masyarakat yang menyambut mereka di sepanjang jalan. Kegiatan ini cukup istimewa karena melibatkan sedikitnya 1.500 peserta dan keberangkatannya dilepas anggota DPR RI Bambang Sutrisno dan anggota DPD RI Denty Eka Widi Pratiwi dan disaksikan Ketua Yayasan Pembaharuan Arie Edy Prasetya serta Kepala SMK PN Suhad.

Jalannya Grebeg Ageng sangat meriah karena pesertanya memberikan hiburan dengan mempertunjukkan aksi-aksi kesenian mulai dari drum band, kuda kepang, dayakan, dolalak, dan tari-tari kreasi baru dengan dukungan busana yang menawan.

Ketua Yayasan Pembaharuan Arie Edy Prasetya mengungkapkan, perhelatan peringatan kali ini memang dibuat meriah mengingat SMK PN telah menginjak usia yang ke-50, sedangkan SMK PN2 telah berusia 20 tahun. Pemilihan awal rute dari SD Kliwonan dikarenakan dari tempat itulah sekolah yang sebelumnya bernama SMK Kosgoro itu memulai pendidikannya.

“Baru kali ini kami menampilkan peringatan yang sangat meriah. Sebelumnya melakukan upacara peringatan Hari Pahlawan di sekolah dan dilanjutkan beberapa kegiatan yang lain. Dan kali ini kami turun ke jalan melakukan Grebeg Agung yang sengaja ditampilkan untuk bisa dinikmati masyarakat,” jelas Arie.
Dikatakan, penggunaan sembilan gunungan memiliki dua makna. Gunungan dimaksudkan sebagai bentuk kebesaran, sedangkan sembilan menunjukkan angka tertinggi. Harapannya, ke depan mereka akan semakin besar dan tinggi tanpa meninggalkan akarnya.

“Kita tidak boleh jumawa dengan hasil yang sudah diraih. Makanya kami ingin memberikan yang terbaik kepada masyarakat melalui sajian ini,” tambahnya.
Sementara itu, Bambang Sutrisno mengungkapkan dunia pendidikan kejuruan masih dibelit dengan permasalahan masih banyaknya alumni yang belum tertampung di dunia kerja. Hal ini dikarenakan masih kurang maksimalnya pemolesan skill siswanya.

“Kami membutuhkan banyak SMK untuk mendukung pembangunan di daerah. Katakan daerah yang potensi wisatanya tinggi tapi tidak didukung adanya SMK pariwisata dan sebagainya. Selama ini masih banyak juga alumni SMK yang belum tertampung di dunia kerja,” katanya.

Ia berharap sekolah kejuruan yang sudah ada tetap berusaha meningkatkan kualitasnya, sehingga lulusan yang dihasilkan bisa bersaing di dunia kerja. (udi/laz/er/mg3)