PURWOREJO – Veteran perang di Purworejo yang tergabung dalam Legiun Veteran Indonesia (LVRI) kecewa dengan Pemkab Purworejo. Sebagai pelaku sejarah mereka merasa diabaikan dan tidak dilibatkan dalam upacara Hari Pahlawan yang diadakan di Alun-Alun Purworejo, Sabtu (10/11).

Beruntung, rasa kecewa mereka sedikit terobati karena bisa tetap berkumpul dan bertemu di Hari Pahlawan dengan teman seperjuangan dalam forum silaturahmi yang difasilitiasi Marsma (Purn) Juwono Kolbioen, salah seorang anggota LVRI pusat di Hotel Suronegaran. Hanya saja dalam forum itu mereka menyerukan tentang keacuhan pemkab dengan perhimpunan tersebut.

“Kenapa kalau pahlawan sudah meninggal diperingati. Tapi yang masih hidup kok tidak diundang,” kata Ketua LVRI Purworejo Ngadimin.

Dikatakan, ia menunggu kemungkinan ada undangan tersebut hingga Jumat (9/11) siang. Dirinya menanyakan ke sekeretariat LVRI dan dinyatakan jika undangan itu memang tidak ada.

“Tidak saja LVRI yang tidak diundang. Tapi juga Pepabri yang menjadi paguyubannya pensiunan TNI dan Polri, juga tidak diundang,” jelas Ngadimin.

Ia mengaku kecewa dengan hal ini karena jika diundang dipastikan mereka akan hadir. Tercatat saat ini ada 19 veteran perang yang masih hidup di Kabupaten Purworejo. Dan bentuk perhatian dari pemkab nyaris tidak ada. “Bantuan dari pemkab tidak ada, paling saat LVRI ulang tahun saja. Itu pun kami harus membuat proposal,” kata Ngadimin.

Pihaknya sebenarnya ingin melakukan audiensi dengan Bupati Purworejo Agus Bastian. Hanya saja belum bisa dilakukan karena harus membuat surat terlebih dahulu. Dan itu belum dilakukannya.

“Pengalaman dari Pepabri sudah mengajukan surat permohonan audiensi karena ada kepengurusan baru, sudah dua bulan tapi belum ada respons,” jelasnya.

Marsma Juwono Kolbioen sendiri mengaku amat menyayangkan ketiadaan perhatian dari pemkab tersebut. Dia melihat jika di negeri ini memang kurang menghargai keberadaan veteran, padahal tanpa ada veteran tidak mungkin ada negeri ini.

“Veteran itu memperjuangkan kedaulatan. Jumlah mereka sebenarnya ribuan dan banyak yang tidak tercatat,” kata Yuwono. (udi/laz/er/mg3)