JOGJA – Manajer Divisi Pendampingan Rifka Annisa Indiah Wahyu Andari meminta penyidik jeli melihat kasus perkosaan. Sebab, ada modus baru dalam kasus perkosaan belakangan ini. Yaitu, bujuk rayu. Modus ini sulit dipidanakan.

”Karena seolah-olah atas dasar suka sama suka. Tapi hal itu merupakan bentuk perkosaan,” jelas Indiah Minggu (11/11).

Praktiknya, pelaku memanipulasi perasaan korban dengan bujuk rayu. Tujuannya, agar korban tidak merasa terpaksa dan terancam. Dengan begitu, pelaku dapat leluasa melakukan pelecehan.

”Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, korban ditinggalkan. Ini telah jadi tren pelecehan seksual yang terbaru,” ujarnya.

Kendati begitu, Indiah melihat, penerapan Pasal 285 KUHP untuk menjerat kasus ini sulit. Sebab, penerapan pasal ini harus memenuhi unsur kekerasan dan pemaksaan. Sementara dalam modus buju rayu, korban merasa tidak mengalami kekerasan maupun pemaksaan. Bahkan korban sendiri tidak sadar telah mengalami pelecehan seksual.

“Kalau memakai dasar hukum saja untuk melihat maka perempuan dirugikan,” katanya.

Karena itu, dia mendorong penyidik bisa menggunakan pasal lain dalam menangani kasus pelecehan seksual. Tidak terbatas pada perkosaan. Misalnya dengan menerapkan Undang-undang No. 35/2014 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

”Jika korbannya masih anak-anak bisa dijatuhi hukuman berat. Meski suka sama suka,” tegasnya.

Menurutnya, Rifka Annisa kerap menangani kasus manipulasi. Salah satunya, kasus yang menimpa korban tunarungu. Semula kepolisian kesulitan menangani perkara ini. Lantaran antara korban dan pelaku ada hubungan asmara. Namun, kepolisian akhirnya menemukan celah lantaran pelaku meminta menggugurkan kandungan korban.

”Pelakunya, pegawai TU sekolah. Sedangkan korban adalah siswa di sana. Modusnya dipacari dulu dan dibujuk rayu,” jelasnya. (dwi/zam/rg/mg3)