Di mata Muhammad In’am Amin, eks narapidana teroris punya masa depan cerah. Seperti anak bangsa lainnya. Dia pun mendampingi dan mengarahkan mereka. Agar bisa kembali berkarya untuk negeri.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

Di wilayah Nologaten, Condongcatur, Depok, Sleman, ternyata ada tempat pembinaan eks narapidana teroris (napiter). Persisnya di sebuah kedai kopi. Di kedai kopi bernama Kopi Gandroeng ini beberapa eks napiter menemukan kembali jalan hidupnya.

”Banyak (eks napiter) yang datang ke warung kopi ini,” Muhammad In’am Amin, pemilik Kopi Gandroeng pekan lalu.

Cak In’am, sapaannya, memiliki sejarah panjang dengan beberapa pelaku aksi terorisme. Sebut saja Amrozi, terpidana bom Bali 1. Cak In’am yang merawat putra Amrozi. Saat Amrozi menjalani masa hukuman di Nusakambangan.

Bahkan, keluarganya juga ada yang terlibat dengan aksi terorisme. Saat itu adik sepupunya melanjutkan studi di Mesir. Namun, bukannya belajar agama, dia justru terpapar paham radikalisme. Dia tewas saat aksi bom bunuh diri di Iraq Februari 2014.

Dia bercerita warung yang dirintisnya pada 2015 tak sebesar ini.”Dulu masih harus mencuci, membuat, dan melayani pelanggan sendiri,” tutur pria 42 tahun itu.

Di sela obrolan itu, Cak In’am juga blak-blakan dengan seputar aktivitasnya yang lain. Sebelum menekuni bisnis kedai kopi. Dia pernah aktif di sebuah organisasi sosial. Persisnya organisasi yang bergerak dalam rehabilitasi eks napiter.

”Namanya Yayasan Lingkar Perdamaian namanya,” kata lulusan UMY 2001 ini.
Yayasan itu didirikan Ali Fauzi, adik Amrozi. Dia diajak untuk bergabung. Dengan kepeduliannya terhadap eks napiter, suami Suci Rahmawati ini mengiyakannya. Dia bercita-cita ingin mengembalikan eks napiter ke masyarakat.

”Mereka melakukan itu (aksi teror) karena gagal paham dan khilaf,” ujarnya.
Keterlibatan Cak In’am dalam organisasi ini bukan semata-mata karena pernah bersinggungan dengan beberapa teroris. Melainkan karena eks napiter juga punya keluarga yang harus dihidupi.

”Apapun itu yang penting mereka sudah tobat,” jelasnya.

Nah, ketika kembali ke DIJ, mendirikan warung kopi menjadi pilihannya kala itu. Sebab, warung kopi menjadi tempat asyik untuk membina para eks napiter.
”Sebagai media untuk memotivasi mereka agar bisa move on,” ujarnya.

Memang, dalam membina para eksnapiter tidaklah mudah. Sebab, mengubah pola pikir radikal itu tidak semudah membalikkan tangan. Yang bisa dilakukan hanya menekan dan mengikis paham radikalisme.

Caranya? Dia menuturkan, setiap eks napiter yang datang ke warung kopi selalu diajak melihat dunia. Dari warung kopi itu diperlihatkan keberagaman.

“Sebab Indonesia bukan hanya Islam,” bebernya.

In’am selalu terbuka pada kawan-kawan eks napiter. Mereka yang datang selalu disambut hangat. Bahkan, In’am mengajarkan mereka bagaimana berwirausaha dan meracik kopi. “Karena masalah ekonomi juga bisa melahirkan aksi radikalisme,” bebernya.

Cara-cara seperti inilah yang digunakannya. Bahkan dia juga memberikan kesempatan kepada eks napiter untuk bekerja di tempatnya.
“Ada dua di sini yang kami bina, dan kami dampingi. Akhirnya kami beri pekerjaan,” ungkapnya.

Membina para eksnapiter memang tidak mudah. Kekhawatiran jika nantinya mereka kembali ke jalan radikal tentu ada. Namun, dia percaya pendampingan dan pembinaan terus-menerus bisa mengubah cara pandang mereka.

“Kami ibaratkan mereka tanaman. Kalau mengubah sulit, tapi kalau merawatnya maka akan jadi tanaman yang produktif,” sambungnya.

Kepeduliannya kepada para eksnapiter juga tampak pada saat ada mantan teroris yang bebas. Dia bersama dengan anggota Yayasan Lingkar Perdamaian turut menjemput mereka di lapas. Sayang, tidak semua sambutan baik.

“Bahkan ada yang menganggap kami kafir karena bekerja sama dengan kepolisian,” kenangnya.

Namun, In’am tidak patah arang. Pendekatan dilakukan secara perlahan dan bertahap. Dia pun ber komitmen akan tetap konsisten untuk membantu para eks napiter agar bisa kembali ke masyarakat.

“Sebab mereka sebenarnya punya skill,” bebernya.

Dia berharap agar eksnapiter bisa berjihad dengan cara yang lain. Yaitu, berguna bagi keluarga, sesama, bangsa, dan negara. (zam/rg/mg3)