SLEMAN – Resmob Polres Sleman dan Reskrim Polsek Ngaglik meringkus komplotan maling spesialis minimarket. Ketiga pelaku ditangkap di Hotel Ampel Gading, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (8/11). Ketiga pelaku itu, Rohimin, 27; Nur Rohim, 33; Irman Sutekat, 26; dan Witno, 35.

Kapolsek Ngaglik Kompol Danang Kuntadi mengatakan kelompok itu berasal dari Wonosobo. Sasaran mereka minimarket. Modusnya menjebol tembok, lalu menguras dagangan minimarket.

“Kalau di Sleman terdeteksi mereka beraksi di Turi pada 25 September 2018. Lalu di Ngaglik 18 Oktober dan Godean 27 Oktober. Beraksi dini hari jam 02.00 dan selesai jam 04.00. Menjebol tembok ngakunya hanya perlu waktu 15 menit,” kata Danang di Mapolsek Ngaglik, Minggu (11/11).

Jajarannya masih mendalami teknik penjebolan tembok tersebut. Danang menduga pelaku menggunakan cairan khusus. Jika disemprotkan akan melunakkan dinding bangunan.

Namun pelaku belum mengakui modus tersebut. Padahal di tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan barang bukti sisa cairan kimia. Para pelaku mengaku hanya menggunakan obeng, bor dan linggis untuk membobol tembok.

Setiap beraksi mereka mengincar rokok. Karena lebih mudah dijual dan memiliki harga jual tinggi. Saat beraksi di Alfamart Ngaglik, mereka menggasak barang senilai Rp 17 juta.

“Pelaku berhasil dilacak berdasarkan rekaman CCTV minimarket. Kami lacak ternyata tengah beraksi di Kedung, Temanggung,” ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Ngaglik Iptu Budi Karyanto mengatakan mereka menyiapkan aksi dengan matang. Mereka menginap di satu lokasi. Usai beraksi di satu wilayah mereka berpindah ke wilayah lain.

Saat ditangkap, komplotan ini tengah bersiap migrasi ke Jakarta. Tentunya untuk melancarkan niat yang sama. Dalam melancarkan aksinya, setiap pelaku memainkan peran-peran masing-masing.

“Nur Rohim itu residivis, perannya eksekutor dan menyiapkan obeng dan linggis. Irman eksekutor dan mencari kendaran untuk mobilisasi, Witno sebagai ekskutor juga dan menjual barang-barang hasil curian. Ketiganya ditahan di Polsek Ngaglik, khusus Rohimin di Polres Sleman,” katanya.

Penangkapan para tersangka belum final. Tim gabungan masih melacak Rian yang berperan sebagai penadah. Barang curian di Ngaglik dibeli Rp 11 juta, namun baru dibayar Rp 4 juta oleh Rian.

“Dia masuk daftar pencarian orang (DPO). Seluruhnya dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun,” ujarnya.

Nur Rohim mengaku terpaksa menjalani profesi ini. Terlebih pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang las masih dirasa kurang. Residivis kasus KDRT dan pencurian ini sepakat melakukan pencurian.

“Untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar utang. Pemasukan sehari-hari kurang,” katanya. (dwi/iwa/zl/mg3)