Peringatan Hari Pahlawan 10 November dikolaborasi sebagai kegiatan promosi pariwisata. Itulah yang terjadi di Watu Tapak Camp Hill pada Jumat (9/11) hingga Sabtu (10/11).

Beberapa komunitas yang meliputi pengelola destinasi Watu Tapak Camp Hill berkolaborasi dengan @malamuseum dan Saka Pariwisata DIY mengadakan sejumlah kegiatan. Meliputi upacara memakai pakaian adat, teaterikal Hari Pahlawan, dan pagelaran keroncong Watu Tapak. Kemudian ada diskusi terbuka. Nonton bareng serta workshop fotografi bersama fotografer Bambang Wijanarko dan Ve Dhanito.

Kepala Seksi Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY Wardoyo mengatakan Watu Tapak merupakan destinasi wisata yang tengah berkembang. “ Destinasi ini digarap komunitas GenPi Jogja,” katanya Minggu (11/11).

Watu Tapak lokasinya satu kompleks dengan wisata Tebing Breksi. Bahkan persis bersebelahan dengan kawasan Taman Tebing Breksi, Prambanan, Sleman. “Jadi wisatawan bisa secara langsung mengunjungi kedua objek wisata sekaligus,” ujar Wardoyo.

Dengan adanya peringatan Hari Pahlawan dikemas dengan atraksi pariwisata diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Destinasi Watu Tapak akan makin dikenal luas sebagaimana Tebing Breksi.

Adapun dalam acara nonton bareng itu, peserta yang berkemah sejak Jumat (9/11) sore diajak nonton film bersama Soerabaia 45. Lalu dilanjutkan diskusi film Teatrikal Serangan 10 November. Pagi harinya pada Sabtu (10/11) mengikuti upacara bendera dengan pakaian adat dan teaterikal.

Adapun teaterikal bertema perjuangan Watu Tapak. Latar belakangnya pada November 1945 Belanda dan sekutunya masih tidak mengakui Proklamasi 17 Agustus 1945. Adegan dimulai dengan iring iringan tiga jeep tentara Belanda membawa bendera merah putih biru.

Mereka masuk Desa Watu Tapak. Rombongan perwira Belanda terdiri tentara dan noni Belanda. Perwira tentara Belanda diperankan mantan Kepala Badan Pariwisata DIY Condroyono. Sedangkan anggota tentara dan noni Belanda dimainkan oleh Dimas Diajeng DIY.

Adegan berikutnya lima orang pejuang bersepeda mengantarkan kekasih hati gadis desa menuju ke sawah dengan berboncengan. Pertemuan tidak dapat terhindarkan. Pasukan Belanda bersenjata lengkap menembaki lima orang pejuang bersepeda yang tidak siap. Seorang pejuang gugur. Dua gadis desa menjadi sandera tentara Belanda.

Dalam keadaan panik empat pejuang dan tiga gadis desa mamacu sepeda menuju ke perkampungan. Pejuang bertemu dengan 10 warga desa. Mereka bermaksud meminta bantuan kepada warga desa lainnya. Informasi adanya pasukan Belanda akhirnya menyebar luas.

Pasukan Belanda masuk ke desa dan membakar sejumlah saung milik warga. Itu membuat warga marah. Pasukan Belanda mulai menembaki kerumunan warga. Beberapa terkena tembakan dan gugur. Pejuang mulai kehilangan kesabaran. Mereka nekat melawan . Diikuti warga desa. Pertempuran jarak dekat tidak terhindarkan. Tentara Belanda kehabisan peluru. Mereka tidak menyangka dengan keberanian pejuang. Salah satu pejuang naik ke kap jeep mengambil bendera. Merobek bagian warna biru. Disambut teriakan merdeka.

Karena emosi sebagian pejuang ingin menghabisi semua tentara Belanda. Tetapi dicegah. Hanya dijadikan tawanan saja. Tawanan diarak menuju ke tanah lapang. Semua pejuang dan masyarakat mengibarkan bendera merah putih. (kus/zl/mg3)