MEDAN – Data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ada sekitar 126 juta perempuan di Indonesia yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pembangunan tak hanya mengarah pada infrastrukturnya saja, tetapi juga pada ranah perempuan yang berdaya.

”Satu negara dikatakan belumm maju dan bebas dari kemiskinan jika perempuan di negara tersebut belum berada di garis aman. Kami galakkan juga kampanye Laki-Laki untuk Perempuan, karena sudah saatnya laki-laki memberikan kesempatan penuh kepada perempuan untuk berdaya,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Susana Yembise saat temu ramah dan jamuan makan malam di Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara, Minggu malam (11/11).

Yohana mengungkapkan, pihaknya sudah merintis forum komunikasi Partisipasi Publik utnuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) sebagai upaya pemberdayaan perempuan di daerah. Acara di Medan, Puspa Nasional (Puspanas) 2018, yang berlangsung dari 12-14 November ini untuk menyinergikan gerakan di daerah.

”Tak rugi untuk angkat anggaran bagi perempuan dan anak, kehidupan perempuan yang kuat akan menghasilkan generasi penerus yang kuat juga. Masa depan daerah akan terangkat,” ujarnya meminta kepala daerah untuk mendukung gerakan pemberdayaan perempuan dan anak agar tercipta Indonesia Ramah Anak.

Dalam Temu Ramah dan Jamuan Makan Malam Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara  dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI beserta Forum Komunikasi Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK Puspa) Se-Indonesia, Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menambahkan, pihaknya konsern pada pemberdayaan perempuan dan semoga tak hanya program saja tapi bisa berjalan riil.

DARI JOGJA UNTUK BERDAYA: Kabid Pengembangan Partisipasi Perempuan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIJ Nelly Tristiana bersama peserta Puspanas 2018 dari DIJ, termasuk dari Radar Jogja. (REREN INDRANILA/RADAR JOGJA)

Terpisah, Kepala Bidang Pengembangan Partisipasi Perempuan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIJ Nelly Tristiana mengatakan, di Jogjakarta forum komunikasi Partisipasi Publik utuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) sudah berjalan terbentuk dua tahun lalu. Sedangkan untuk programnya sendiri sudah berjalan di Palihan, Kulonprogo.

”Kenapa di Palihan, Kulonprogo? Karena di sana merupakan wilayah terdampak bandara, di mana pemberdayaan perempuan dan anak diperlukan untuk antisipasi perubahan sosiokultural,” ungkapnya. (ila)