Libatkan 10 Dokter Spesialis, Didukung Fasilitas Canggih

JOGJA – Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) dr. S. Hardjolukito bekerja sama dengan Ikatan Alumni Tambang UPN “Veteran” Yogyakarta (IKATA) dan Klinik Saruni Banten, mengadakan bakti sosial operasi katarak. Operasi terhadap 182 pasien tersebut, dilaksanakan tiga hari, sejak Jumat (9/11) hingga Minggu (11/11).

Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito Marsma TNI Dr. dr. Isdwiranto Iskanto, M.Sc, Sp.BS(K), Sp.KP mengatakan, operasi katarak tersebut masih dalam rangkaian perayaan HUT RSPAU  dr. S. Hardjolukito yang ke-6.

“Seperti slogan TNI dari rakyat untuk rakyat. Kegiatan ini juga bagian dari operasi militer selain perang. Yaitu membantu rakyat dalam bidang kesehatan,” kata Isdwiranto kepada Radar Jogja, Jumat (9/11).

Untuk pilihan jumlah sebanyak 182 pasien penderita katarak, bahwa jumlah tersebut sudaj sesuai dengan kebutuhan, baik pihak tenaga medis, maupun pasiennya yang benar-benar harus dilakukan operasi saat ini. “Sebelumnya, terdapat 876 pendaftar. Setelah dilakukan screening, kemudian ditentukan sebanyak 182 pasien yang akan menjalani operasi,” tandasnya.

Perwira Tinggi  TNI AU Bintang Satu itu menjelaskan, di lingkungan masyarakat luas, pasien penyakit katarak masih banyak ditemui. Terlebih dengan fasilitas jaminan kesehatan, banyak yang berobat ke RS Hardjolukito. Namun dengan membludaknya pasien, kuota pasien katarak yang mampu dicover BPJS di rumah sakit tersebut sudah melebihi kuota. Akhirnya melalui kerja sama dengan UPN dan Klinik Seruni Banten, diadakan operasi katarak gratis untuk membantu masyarakat.

“Tujuan dari kegiatan bakti sosial ini, selain sebagai wujud dari kepedulian dan rasa kemanusiaan terhadap sesama, RSPAU juga ingin memberikan kontribusi pelayanan kesehatan terhadap masyarakat umum sebagai bentuk pengabdian TNI AU dalam operasi militer selain perang di wilayah Jawa tengah dan Yogyakarta, di tengah kuota pembatasan jumlah operasi katarak yang ditentukan oleh BPJS kesehatan,” ungkap pria yang juga dokter spesialis bedah syaraf ini.

Kepala Departemen Mata RSPAU Hardjolukito dr. Elisa Samson Manueke, Sp. M menamabhkan, operasi katarak ini akan ditangani 10 dokter spesialis mata dengan alat-alat yang canggih yang dimiliki RS Hardjolukito.

“Alat kami cukup lengkap dan canggih dengan dibantu Dephankam. Salah satunya operating microskop, hanya ada dua di Indonesia. Itu untuk melihat saat operasi, syaraf retina. Yang canggih menembus sampai ke dalam syaraf mata. Harganya tidak murah. Jadi harapan sembuh semakin besar,” bebernya.

Elisa menjelaskan, TNI AU menuntut penerbang selalu handal, termasuk harus sempurna dalam penglihatannya. Karena itu, TNI AU menyiapkan bagian mata di RSPAU untuk lebih maju, dan memfasilitasi dengan alat yang canggih.

“Untuk TNI dan AU, karena tugas operasi militer selain perang, juga membantu masyarakat umum. Rata-rata yang menjalani operasi katarak usianya di atas 50 tahun.  Kalau secara umum biayanya sekitar Rp 9 juta, tapi karena baksos, jadi gratis,” tuturnya.

Untuk diketahui, katarak merupakan kondisi medis yang kerap terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Operasi katarak diperlukan jika kondisi katarak sudah mengganggu fungsi penglihatan secara signifikan dan mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Sampai saat ini, kata Ellisa yang juga atlet paralayang dunia ini, operasi katarak masih menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian orang. Namun, dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, operasi katarak tidak lagi menakutkan.

RSPAU dr. S. Hardjolukito kini memiliki Departemen Mata dengan peralatan modern terbaru dan didukung dengan sistem pelayanan “one stop eye service” sehingga mampu melaksakan kegiatan operasi katarak secara cepat, mudah dan aman. (*/riz/jko)