PURWOREJO – Puluhan sekretaris desa yang tergabung dalam Prasojo Purworejo mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Purworejo, Kamis (8/11). Satu poin utama yang diajukan adalah beberapa kendala mereka dalam melaksanakan tugasnya sebagai sekretaris desa baru di wilayahnya masing-masing.

Dikemas dalam kegiatan hearing, sebelumnya perwakilan Sekdes menemui ketua DPRD dan ingin difasilitasi untuk melakukan silaturahmi dan menyampaikan beberapa uneg-uneg yang ditemui di lapangan saat awal pengabdian mereka.

“Sekdes di Purworejo sekarang telah memiliki paguyuban yang kami namakan Prasojo. Ruang ini lebih banyak digunakan untuk mempererat tali silaturahmi, membina kekeluargaan dan saling bergotong royong, sharing beberapa persoalan yang ditemui saat melakukan tugas-tugas sebagai sekdes,” kata Ketua Prasojo Anjas Prasetyo.

Sekretaris Desa Golok, Kecamatan Banyuurip, ini mengungkapkan, paguyuban itu tidak berbau politik atau berafiliasi kepada salah satu parpol atau capres. Namun dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja mereka.

“Kami merasa perlu membentuk paguyuban karena ternyata beban tugas kami sebagai sekdes itu cukup berat. Sebagai perangkat baru, kami merasa sebagai tulang punggung diberikan beban berat dengan adanya dana yang sangat besar yang masuk ke desa,” jelas Anjas.

Dikatakan, anggaran besar yang harus dikelola mereka mulai dari membuat anggaran, melaksanakan dan memberikan pelaporan kegiatan cukup menguras energi. Sebagai orang baru dalam tata pemerintahan desa, banyak di antara sekretaris desa yang belum siap melakukan tugas itu.

“Mungkin saja di awal mereka bekerja ada yang menjadi perangkat desa itu bisa nyantai, tapi ternyata tidak. Jam kerja di kantor ternyata masih kurang dan pekerjaan dibawa ke rumah,” katanya.

Melihat latar belakang pengusaan tugas yang berbeda-beda, Anjas meminta dilakukan pelatihan secara intensif bagi para sekretaris desa baru. Dengan demikian mereka nantinya akan benar-benar mumpuni dalam melakukan tugasnya.

Salah seorang anggota Prasojo, Wijonarko, Sekretaris Desa Candi Kecamatan Ngombol mengungkapkan, sekretaris desa bekerja ekstra hati-hati dengan adanya gelontoran dana yang besar dari pusat. Adanya regulasi yang selalu update terkadang membuat mereka sedikit terkendala.

Terkait hal itu, pihaknya berharap dari pemerintah kabupaten melalui OPD terkait untuk bisa memberikan update jika ada regulasi terbaru. Hal ini penting agar pekerjaan mereka bisa selaras dengan aturan yang ada dan tidak bertentangan.

Ketua DPRD Luhur Pambudi Mulyono saat menerima kedatangan sekdes mengaku senang karena mereka telah memiliki paguyuban tersendiri. Keberadaan paguyuban ini penting sebagai salah satu bentuk komunikasi di internal sekdes.

Ia juga sependapat paguyuban tidak diarahkan ke politik. Dinilai cukup seksi dalam tahun politik, Luhur berharap paguyuban tersebut bisa tetap netral dan tidak terlibat dalam politik praktis.

“Teman-teman sekdes harus sepaham di mana paguyuban untuk mensuport pemerintahan atau kerjanya. Politik itu memang hak dari masyarakat, tapi itu tersendiri,” jelas Luhur.

Luhur berpesan jika kelanggengan sebuah paguyuban terletak pada anggotanya, untuk itu semua harus tetap kompak dan solid. Paguyuban harus benar-benar diperuntukkan untuk memikirkan perangkat desa bukan yang lainnya.

Secara umum jalannya pertemuan antara paguyuban sekdes dan DPRD serta unsur terkait di pemkab itu berjalan menarik. Hampir seluruh perwakilan kecamatan menyampaikan berbagai permasalahan yang ditemui di lapangan. Beberapa pertanyaan bisa langsung dijawab, sementara yang lain masih ditampung untuk disampaikan kepada bidang yang terkait. (udi/laz/er/mg3)