KULONPROGO – Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa Kencana) DIJ menggelar penyuluhan di Desa Palihan, Kecamatan Temon, Kamis (8/11). Sasarannya, calon pengantin dan pasangan muda.

Ketua Puspa Kencana DIJ, Asrul Tusna Amminudin mengatakan, ada tiga narasumber yang mengisi penyuluhan. Dari LSM Rifka Annisa, Kantor Kementerian Agama Kulonprogo, dan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Teratai.

“Mereka diberi materi bagaimana menyikapi permasalahan berikut trik solutif mengarungi rumah tangga. Tantangan keluarga muda saat ini luar biasa, mereka dilibatkan dalam diskusi panel,” kata Asrul.

Mengapa memilih Desa Palihan? Asrul menegaskan, Palihan adalah desa terdekat dengan bandara. Selain berdampak positif, bandara berdampak negatif. Yakni perubahan demografi dan tatanan sosial. Perlu disikapi dan diantisipasi sejak dini.

“Desa Palihan akan berubah menjadi perkotaan. Generasi muda di desa pinggiran akan berubah menjadi pemuda perkotaan. Kasus pernikahan dan perceraian dini akibat pergaulan bebas, minimnya perhatian orang tua atau keluarga identik dengan kota. Mereka harus siap menghadapi,” tegas Asrul.

Fasilitator Bimbingan Perkawinan, Kantor Kementerian Agama Kulonprogo, Mulyono mengungkapkan, pihaknya mengapresiasi penyuluhan tersebut. Karena searah dengan program Pemkab Kulonprogo.

“Pembinaan calon pengantin dan pasangan muda penting. Mereka harus siap menghadapi kemajuan Kulonprogo. Palihan akan menjadi metropolitan, pedampingan ini sangat bermanfaat,” kata Mulyono.

Pegiat LSM Rifka Annisa, Rochim menambahkan, manisnya rumah tangga kadang menjadi semu. Yakni ketika pasangan tidak memerkirakan pahitnya pernikahan.

“Kami ajak mereka melihat pahitnya rumah tangga. Dan bagaimana cara mengatasinya,” kata Rochim.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering berawal dari permasalahan yang dibiarkan menumpuk tanpa solusi. Survei di Kulonprogo, perceraian terjadi karena suami-istri lupa tujuan perkawinan.

“Banyak yang tidak tahu apa tujuan menikah. Padahal membangun rumah tangga itu dalam jangka waktu lama. Ada kasus anak mengajukan dispensasi pernikahan. Belum ada setahun menikah, minta cerai,” katanya.

Penyuluhan perkawinan sebagai langkah menguatkan generasi muda menata kehidupan berumah tangga. Agar terhindar dari kasus KDRT.

“Menjadi pilot ada sekolahnya. Menjadi ayah atau ibu, belajarnya di masyarakat. Penyuluhan ini untuk membekali mereka hidup di masyarakat saat membina rumah tangga,” katanya.

Psikolog dari Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Teratai, Sri Subyarti menyatakan, salah satu pemicu perceraian adalah tersumbatnya komunikasi. Menyebabkan perselisihan yang berakhir perceraian. (tom/iwa/zl/mg3)