KULONPROGO – Relokasi Masjid Al Hidayah di Palihan, Kecamatan Temon belum tuntas. Masjid tersebut terdampak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

PT Angkasa Pura (AP) I berjanji masjid tersebut selsai dibangun Oktober 2018. Namun kini sudah masuk bulan November.

Lokasi lama masjid tersebut di atas tanah wakaf wilayah Pedukuhan Kragon II Palihan. Selama ini menjadi pusat aktivitas penolak NYIA.

Masjid tersebut kemudian direlokasi ke sisi barat kompleks permukiman relokasi warga terdampak NYIA. Yakni di Pedukuhan II Desa Palihan.

Lahan yang digunakan seluas 788,2 meter persegi. Jauh lebih luas dibanding masjid lama yang hanya 292 meter persegi.

Pembangunan masjid ditangani PT Angkasa Pura Property. Dananya Rp 500 juta, berasal dari kompensasi pembebasan lahan masjid.

Nadzir Masjid Al Hidayah, Muslihudin Sukardi mengatakan, pembangunan sebetulnya sudah hampir selesai. Namun masih perlu finishing, kaca jendela dan pintu serta jaringan listrik. Lantai masjid belum dikeramik. Dindingnya masih berupa plesteran aci.

Sumber air juga belum dipasangi pompa karena belum ada suplai listrik. Padahal pemasangan jaringan listrik telah mendapat izin Sertifikat Laik Operasi (SLO) dan tinggal menunggu penyambungan.

“Belum tahu kapan selesainya. Itu urusan AP I. Kami dari nadzir hanya terima bersih saja. Prosedur selanjutnya pun kami belum tahu bagaimana,” kata Muslihudin.

Dia berharap masjid bisa segera diselesaikan. Agar bisa segera digunakan oleh masyarakat sekitar. Apalagi masjid tersebut dibutuhkan warga terdampak bandara yang kini tinggal di kompleks perumahan relokasi setempat.
“Jika masjid baru tersebut tuntas dibangun, bangunan lama di areal bandara bisa segera dirobohkan,” ujarnya. (tom/iwa/zl/mg3)