Bayu Aliyyudha Wiramanggala, Boys First Team Honda DBL D.I Jogjakarta Series 2018

PADA semifinal Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018, SMA Budi Mulia Dua (BMD) Jogja melawan SMA Pangudi Luhur Jogja (PL). Meski kalah hari itu, PL memunculkan nama Bayu Aliyyudha Wiramanggala sebagai first team Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018.

Hari itu, sebenarnya BMD sudah menatap kemenangan. Namun, Bayu menyamakan kedudukan dengan gerakan fantastis. Crossover dan step back-nya membuka ruang. Tak menyia-nyiakan waktu, Bayu menembak dari garis tiga angka. Masuk. Skor 24 sama, laga lanjut ke babak over time.

Meski akhirnya PL kalah, Bayu mencetak 16 poin. Usahanya menyamakkan angka luar biasa. Untuk basket SMA, gerakan itu begitu sulit. Apalagi dilakukan untuk menyamakkan angka.

‘’Aku memang terbiasa melakukan gerakan itu setiap latihan. Selepas latihan dengan tim aku melatih gerakan itu sendiri. Selain itu memang rutin juga latihan three point,” ungkap Bayu.

Bayu menekuni basket sejak SMP. Saat itu dia iseng mengikuti seleksi tim basket sekolahnya. Ternyata terpilih menjadi tim utama mewakili sekolah untuk pertandingan. Dari situ, dia menyadari punya talenta di basket.

‘’Padahal waktu SMP itu, pelatihku adalah salah satu pelatih top di level universitas. Dia adalah Mas Black (panggilan Yulianto Andy, pelatih basket UAJY). Berarti dia melihat bakatku karena memilihku masuk tim. Di situ aku termotivasi,” kata cowok kelahiran Jakarta 14 April 2001.

Tak mau sekadar berlatih di sekolah, Bayu menambah latihan privat untuk meningkatkan performa. Skill basket memang penting, tapi Bayu merasa kunci sukses justru pada mental.

” Basket itu permainan individual dan mental. Mengasah mental ini yang sulit. Belajarnya pakai pengalaman. Ketika kamu latihan berat, terus pengen menang, eh akhirnya kalah, itu yang bikin mentalmu terasah. Kamu diuji, apakah mau kembali latihan buat menang di kesempatan berikutnya, atau menyerah dan berhenti,” terangnya.

Bayu memang spesial dalam hal mental. Meski ketinggalan angka, dia tidak terburu-buru. Apalagi sebagai point guard, dia harus tetap bisa memimpin rekan satu timnya. Ternyata kedewasaan dan mental tahan banting itu didapatkannya dari sang ibu.

‘’Mama paling berjasa. Dia memenuhi semua kebutuhanku di basket. Enggak cuma materi, tapi juga mental. Pernah waktu SMP aku kena marah sama pelatih, kesalahanku fatal, saat itu aku hampir mau berhenti basket. Tapi mama kasih nasihat, bahwa salah itu biasa. Dimarahin juga lumrah. Jadi harus bertahan dan menunjukkan perbaikan,” tutur penyuka rendang itu.

Bayu kemudian menjadikan nasihat ibunya sebagai pegangan. Kuncinya, kalau mau menjadi pemain bagus jangan takut mencoba dan gagal.

‘’Jangan lupa mengasah mental. Selalu percaya diri. Percaya deh, kalau percaya diri, apapun bisa dilakukan dalam pertandingan. Jangan pernah takut gagal, coba terus. Selalu ada kesempatan sekaligus pencapaian baru untuk mereka yang tak pernah menyerah,” pesannya. (ata/iwa/zl/mg3)