Punya masalah tak harus resah. Itulah prinsip Zalsabila Purnama. Dengan keresahannya itu Zalsa, sapaannya, justru berhasil mengukir prestasi. Di ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2018. Berikut kisahnya.

FAIRIZA INSANI, Jogja

USIANYA masih belia. Baru 18 tahun. Kelas 12 IPS di SMAN 8 Kota Jogja. Tapi kepeduliannya terhadap lingkungan cukup tinggi. Rasa keingintahuannya terhadap sesuatu hal sangat besar. Itulah yang kerap membuatnya resah. Salah satunya soal sultanaat grond (SG) atau tanah sultan. Tanah milik Keraton Jogjakarta. Tapi sebagian ditempati masyarakat. Untuk permukiman. Bersama neneknya, Zalsa termasuk salah satu dari sekian warga terdampak sengketa SG. Kondisi ini membuatnya kian resah. Sejak akhir 2016 lalu.

“Tiba-tiba tanah yang saya tempati dengan mbah saya itu diklaim oleh Sultan. Padahal itu tanah dari BPN (Badan Pertanahan Nasional),” klaimnya kala itu. Zalsa makin penasaran. Semangat mudanya menggelora. Untuk mencari tahu fakta sebenarnya. Zalsa bertekad mengungkapnya. Dia lantas menelusuri asal usul kepemilikan tanah tersebut. Yang kerap kali menimbulkan masalah. “Saya merasa hal itu butuh pembenaran,” pikirnya.

Belum menemukan jawaban pasti, muncul masalah serupa. Di tempat berbeda. Di Gunungkidul. Di kawasan pesisir pantai. Tanahnya berstatus SG juga. Ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2018 membuatnya kian semangat. Untuk menggali data lebih banyak. Tentang seluk beluk SG. Zalsa pun berangkat ke Gunungkidul. Dia tertarik meneliti lingkungan SG di Pantai Watu Kodok. Ternyata memang cukup kompleks masalahnya. Tanah SG itu.

Pertanahan menjadi persoalan pelik di Jogjakarta. Dari situ, Zalsa mencoba mencari solusi. Untuk memecahkan masalah SG, khususnya yang ditempati masyarakat. Seperti kediamannya yang dihuni bersama neneknya.

Kesimpulannya, justru SG lah yang membuat Jogjakarta istimewa. Sehingga tak selayaknya SG menjadi masalah pemicu konflik horizontal.

Saat penelitian Zalsa kerap konsultasi dengan pihak keraton. Di luar dugaan, tanggapan keraton sangat positif. Zalsa tak kesulitan mencari data yang dibutuhkan. Bahkan ikut mendorongnya. “Mereka (pihak Keraton) bilang nanti hasilnya kasih tahu. Supaya bisa menjadi evaluasi atau acuan kebijakan,” ungkapnya Kamis (8/11).

Dari penelitian itu Zalsa mendapat kesimpulan. Hubungan keraton dengan keistimewaan Jogjakarta tak dapat dipisahkan. “Keraton itu bisa bertahan karena ada tanahnya. Kalau itu hilang atau dihapus undang-undangnya, ya otomatis kedaulatannya juga hilang,” ujarnya.

Selama penelitian Zalsa tidak sendiri. Dia menggandeng Prananda Atha Yudanto. Teman sekolahnya. Dari kelas 12 IPA 1. Prananda banyak membantunya untuk urusan dokumentasi. Sejak 2017. Di OPSI 2018 keduanya maju sebagai tim.

Tak disangka, penelitiannya mampu menjadi juara. Di OPSI 2018. Yang digelar 15-20 Oktober lalu. Di Semarang, Jawa Tengah. Mengalahkan ratusan penelitian lain. Yang juga bertaraf nasional. Yang sama-sama harus melewati beberapa tahap seleksi. Secara ketat. Mulai pameran poster. Sampai presentasi makalah. Zalsa dan Prananda berhak membawa pulang medali emas.

Zalsa berharap penelitiannya bisa berlanjut. Ke tahap lebih tinggi. Tingkat internasional. Dengan lebih banyak data. Supaya lebih bermanfaat bagi masyarakat. Tak kalah penting, Zalsa mengajak masyarakat untuk berpikir maju. Dari setiap permasalahan yang dihadapi. Khususnya generasi muda. Harus mampu mengubah keresahan menjadi energi positif. Seperti dialami Zalsa. Keresahan yang dialami justru membuahkan prestasi. (yog/fj/mg3)