JOGJA – Guna meningkatkan pelayanan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional- Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), BPJS Kesehatan menggelar Seminar Internasional bertajuk Big Data Analysis For Improving Health Policy. Kegiatan ini, sekaligus untuk belajar dengan negara lain yang telah sukses menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat.

Seminar internasional tersebut, menghadirkan pembicara dari beberapa negara, seperti The National Health Servis (NHS) England, National Health Insurance Service (NHIS) South Korea, dan National Health Insurance Scheme (NHIS) Ghana. Sementara untuk para peseerta, juga dihadirkan perwakilan dari beberapa negara, yakni Inggris, Korea Selatan, Amerika Serikat, Ghana dan lainnya.

“Kami harus belajar dari pengalaman negara lain, Korea UHC-nya sudah sejak tahun 89, dengan memanfaatkan data untuk pelayanan lebih baik,” kata Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris usai membuka acara Seminar Internasional yang berlangsung di Hotel Grand Aston Yogyakarta, Rabu (8/11).

Dia menyatakan, BPJS Kesehatan sudah sangat familiar dengan big data yang mampu mengoptimalkan program JKN-KIS. Menurutnya, big data analytics ini telah mampu meningkatkan layanan dan menyelesaikan masalah di bidang kesehatan.

“Big data analytics telah berhasil memecahkan masalah dasar dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan. Mulai dari mengurangi re-admisi, meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan, hingga meningkatkan mutu kesehatan,” ujarnya.

Kendati demikian, dalam pelaksanaannya perlu mempertimbangkan beberapa faktor. Selain harus disiapkan secara sistematis, hasilnya harus dikaji oleh pakar. Dengan begitu dapat menciptakan kesatuan pemahaman yang komprehensif.

“Seperti di Inggris, utilisasi big data telah dikembangkan NHS jadi lebih kompleks dalam sebuah machine learning yang melibatkan peran serta pasien, praktisi, peneliti, fasilitas kesehatan, hingga pembuat kebijakan,” ungkapnya.

“Misalnya di Ghana, big data dimanfaatkan oleh NHIS Ghana untuk pengendalian tuberkulosis,” lanjutnya. (sce/tif/jko/gp/mg3)