GUNUNGKIDUL –  Masyarakat mesti mewaspadai musim penghujan. Sebab, nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD) biasanya berkembang biak pada media yang menampung air hujan. Seperti bak penampungan.

Kepala Bidang Program Pengendalian Penyakit (P2), Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Angraeni mengingatkan, penyakit DBD tetap harus diwaspadai. Meski jumlah kasus penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti di Gunungkidul turun.

”Perkembangan nyamuk penyebab penyakit tersebut lebih pesat saat hujan jarang turun,” kata Dewi saat dihubungi Kamis (8/11).

Namun, perkembangbiakan nyamuk ini paling banyak di air yang tak mengalir. Menurutnya, kondisi ini berbeda ketika air dalam penampungan mengalir. Jentik sulit untuk tumbuh menjadi nyamuk.

Dari itu, Dewi mengimbau masyarakat rutin memantau berbagai wadah di sekitar rumah yang bisa menampung air. Seperti kaleng. Sebaiknya berbagai wadah ini dibalik biar tak menampung air.

”Termasuk bak penampungan air bersih. Juga harus dipantau,” pesannya.
Dalam kesempatan itu, Dewi menyinggung ciri-ciri penderita DBD. Di antaranya adalah suhu badan lebih dari 38 derajat celsius. Ciri lain panasnya tidak spesifik. Alias naik turun.

”Ditandai dengan menurunnya jumlah trombosit dari pasien tersebut,” paparnya.

Sekretaris Dinkes Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka mengungkapkan hal senada. Menurutnya, peralihan musim memicu peningkatan kasus penderita DBD. Karena itu, Priyanta mengimbau agar menjaga pola hidup bersih dan sehat. Juga menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk. ”Juga ingat 3 M: menutup, menguras, dan mengubur,” pesannya. (gun/zam/er/mg3)