Selama Kontestasi Pemilu 2019

JOGJA – Menteri Agama RI Lukman Hakim meminta kepada semua peserta Pemilu 2019 supaya tidak memainkan isu agama sebagai bahan politik. Potensi benturan antaragama mudah muncul jika hanya sisi luar agama yang diangkat.

“Jangankan antaragama, antaroknum dalam agamanya sendiri pun bisa terjadi gejolak,” ujar Lukman usai membuka International Syposium of Religious Life 2018 di Hotel Novotel Jogja Rabu (7/11).

Lukman justru berharap yang dikedepankan adalah dua sisi keagamaan yakni esensi dan kelembagaannya. “Kedepankan esensi atau pesan-pesannya yang universal,” lanjutnya

Selain unsur politik, Lukman juga menyinggung permasalahan yang muncul antara agama dan budaya. Dia mengeluhkan adanya kelompok yang memahami teks keagamaan kelewat harfiah. Di sisi lain secara ekstrem pula ada yang memahaminya secara liberal. Itu yang dinilai Lukman menimbulkan fragmentasi dan radikalisasi ekstrem dalam beragama.

“Munculnya sikap radikal ekstrem dapat menimbulkan keresahan bagi umat beragama,” ujar teman SMA Wakil Gubernur DIJ PA X itu.

Menurut dia, di Indonesia agama dan budaya tidak dapat dipisahkan apalagi di benturkan. Mempertemukan agama dan budaya di Indonesia bukan berarti mengorbankan prinsip dasar agama atas dasar budaya dan sebaliknya.

Karena itu, selain mendiskusikan hasil penelitian terkait agama dan budaya, simposium ini membincangkan manifestasi hubungan agama dan budaya secara empiris. Menggunakan pendekatam sosiologis, antropologis, kajian Islam klasik, filantropis, dan kajian Islam kontemporer.

Kemenag mengarahkan para akademisi untuk tidak hanya menampung karya ilmiah untuk konsumsi akademik. Namun juha untuk membangun sense of crisis atau gesekan keagamaan yang terjadi di akar rumpun, sehingga dapat menyarankan jalan keluarnya.

“Solusi atas berbagai permasalahan yang terkait dengan agama dan budaya tidak hanya lahir dari para agamawan dan budayawan, melainkan juga akademisi, sehingga solusi yang dihasilkan pun lebih komprehensif,” tuturnya.

Sementara itu Dicky Sofjan dari Indonesian Consortium of Religious Studies (ICRS) UGM menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai wadah untuk melihat perkembangan paham-paham dan tren keagamaan global saat ini. Terdapat 279 abstraksi yang masuk dan hanya 75 peserta dari 15 negara yang lolos ke tahap presentasi penelitian.

Dia pun berharap di tahun politik ini para pihak terkait lebih bijak dalam menggunakan isu agama. Untuk tidak mempolitisasi institusi agama melainkan mengedepankan spirit atau pesan positif dari agama.

“Seperti kata menteri, harus berhati-hati jika bermain api dengan agama,” ujarnya. (tif/pra/zl/mo2)