Demi mengoptimalkan fasilitas pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta membuka program kelas internasional. Meski mulai menerima mahasiswa asing sejak 2000, baru pada 2009 diselenggarakan program kelas internasional. Program ini tak lain untuk memaksimalkan pendidikan dan tukar ilmu di UAD hingga lintas negara.

Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Urusan Internasional Ida Puspita SS, MA, Res, saat ditemui di ruang kerjanya (24/10). Ia mengatakan, definisi kelas internasional yakni mahasiswa asing yang menimba ilmu di UAD. Namun, bahasa pengantar dalam pembelajarannya adalah Bahasa Indonesia.

Dalam kelas internasional, setidaknya ada tiga program yang sudah berlangsung hingga kini. Yakni Program Joint Degree (2+2), Program Transfer Kredit (1 semester) dan Program Transfer Kredit (3+1). Terlepas dari program itu, UAD juga menerima mahasiswa asing di kelas reguler sejak semester 1 hingga semester 8. Program reguler ini ada hampir di setiap program studi (prodi). “Mereka ada yang berasal dari Yaman, Timor Leste, Thailand, hingga Tiongkok,” kata Ida.

Begitu pula dengan Program Joint Degree (2+2). Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pengantar dalam sistem pembelajaran. Program ini memungkinkan mahasiswa asing untuk belajar Bahasa Indonesia terlebih dulu selama dua tahun, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan di UAD selama dua tahun.

Program-program ini pun bekerja sama dengan universitas mitra di masing-masing negara. Di Tiongkok misalnya, sebelum mahasiswa asal negara tersebut menempuh pendidikan di UAD, mereka akan dibekali pendidikan Bahasa Indonesia selama dua tahun. Pendidikan itu diberikan oleh dosen-dosen yang dikirim ke Tiongkok.

Hal itu juga berlaku bagi mahasiswa yang hendak mengenyam pendidikan di Tiongkok. Mereka akan dibekali kemampuan berbahasa Mandarin dari para pengajar asal Tiongkok selama kurang lebih dua tahun di UAD. Setelah itu, baru mereka melanjutkan pendidikan dua tahun berikutnya di Tiongkok. “Untuk program itu yang ikut sejauh ini ada Prodi Manajemen, Sastra Indonesia, hingga Akuntansi,” ujar Ida.

Sementara itu, Program Transfer Kredit (3+1) yakni tiga tahun di negeri asal dan satu tahun di UAD. Akan tetapi, Program Transfer Kredit tanpa mengeluarkan ijazah. Sedangkan Program Joint Degree ada output-nya berupa ijazah.

Di sisi lain, untuk Program Transfer Kredit (1 semester) mahasiswa asing hanya mengikuti perkuliahan selama enam bulan. “Kalau program ini cukup banyak jumlah mahasiswa asingnya,” ujar Ida. Para mahasiswa itu tersebar di Prodi Matematika, Sastra Arab, hingga Manajemen. Kendati demikian, Ida mengatakan untuk kelas internasional dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris, baru hendak dirintis.

Lebih dari itu, UAD pun memiliki program di luar jalur degree yakni kursus bahasa dan budaya Indonesia. Kursus tersebut ditujukan untuk penutur asing yang diselenggarakan Kantor Urusan Internasional atau Pusat Bahasa.

Sedangkan untuk universitas mitra, UAD banyak bekerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri. “Di Tiongkok kami bekerjasama dengan tiga PT, salah satunya Guangxi University Nationalities,” tutur Ida. Ada pula kerja sama yang dibangun dengan Malaysia seperti University of Malaya.  (cr9/laz/er/mo2)