Kurikulum kelas internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada dasarnya sama dengan kelas regular. Perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan, yakni bahasa internasional, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“Saat ini kelas internasional UMY baru menerapkan penggunaan bahasa Inggris. Ke depan akan juga diterapkan pnggunaan bahasa Arab,” ungkap Wakil Rektor Bidang Akademik UMY Dr Sukamta saat ditemui Radar Kampus di sela-sela kegiatannya di PKU Gamping (23/10).

Rencana penerapan bahasa Arab ini dianggap relevan, karena UMY sudah punya program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Arab yang sudah bekerjasama dengan beberapa universitas di Timur Tengah, seperti Mesir. Kendati begitu, prodi ini belum mendeklarasikan diri memiliki program internasional.

“UMY punya tujuh kelas internasional,” jelas Sukamta. Di antaranya, International Program for International Relations (IPIREL) pada Prodi Hubungan Internasional, International of Government (IGOV) pada Prodi Ilmu Pemerintahan. Tiga kelas internasional dari bidang  ekonomi, yaitu International Program of Management and Bussiness (IMABS), International Program of Accounting (IPACC), International Program of Economics and Finance (IPIEF). Kemudian ada International Program of Law and Sharia (IPOLS). Terakhir, International Program of Islamic Communication (IPICOM).

“Kurikulum yang digunakan juga sudah didesain dengan standar internasional. Walaupun pembelajarannya diterapkan di Indonesia,” katanya.

Selain penggunaan bahasa, kelas internasional punya program internasional. Seperti student mobility yang konsepnya transfer-kredit. Dijelaskan, program ini mengharuskan mahasiswa kelas internasional dikirim ke luar negeri selama beberapa bulan atau satu semester untuk mengikuti perkuliahan di sana. Nilai yang diperoleh nanti diakui sebagai credit transfer untuk menggantikan perkuliahan di UMY.

“Tentunya tidak semua mata kuliah dipelajari. Hanya mata kuliah yang relevan dengan perguruan tinggi yang bekerjasama dengan UMY,” jelas Sukamta.

Beberapa negara yang bekerjasama dengan UMY yaitu Malaysia, Thailand, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Australia. Sedangkan di seluruh dunia, ada lebih dari 100 perguruan tinggi internasional yang sudah menandatangani MoU dengan UMY.

Demikian juga sebaliknya, UMY juga menerima mahasiswa luar negeri dari berbagai negara untuk kuliah di UMY dan diberikan nilai. Nilai tersebut juga bisa diakui oleh universitas mereka, karena sudah ada kesepakatan. MoU di level universitas dan MoA level fakultas dan prodi.

Selain pertukaran pelajar (student exchange), UMY juga bekerjasama untuk staff exchange. Artinya dosennya yang bertukar. Terkadang dosen UMY juga dikirim ke luar negeri untuk menikuti joint research, joint publication, maupun mengajar di sana. Selain itu, ada program visiting professor. Jadi profesor dari luar negeri juga datang ke UMY untuk mengajar, joint research, dan joint publication dengan dosen UMY.

Program istimewa bagi mahasiswa kelas internasional UMY, yaitu mereka bisa menikmati KKN internasional. Beberapa negara yang menjadi tujuan mereka, di antaranya, Filipina, Thailand, dan sebagian di Malaysia.

UMY juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari universitas di luar negeri untuk mengikuti KKN di Indonesia. “Jadi program ini seperti program belajar cepat di masyarakat. Cuma namanya saja yang berbeda, yaitu learning express,” jelasnya.

Biasanya, mahasiswa yang datang untuk mengikuti learning express ini berasal dari Jepang dan Singapura. Bahkan tiap universitas tidak jarang mengirim lebih dari 20 mahasiswa. Mereka kemudian akan didampingi langsung oleh mahasiswa UMY. “KKN Internasional tadi bisa jadi dilaksanakan di Indonesia. Tapi bersama dengan mahasiswa dari luar negeri. Tetap dikatakan KKN Internasional karena dilaksanakan dengan mitra internasional,” jelasnya.

Biaya SPP kelas internasional di UMY hampir sama dengan kelas reguler. Menjadi lebih tinggi karena ada beberapa program internasional. Jadi ketika mahasiswa melakukan kuliah satu semester di luar negeri, mereka tidak dibebankan biaya perkuliahan di UMY, begitu juga di universitas tujuan alias gratis. “Mahasiswa tinggal datang dan belajar di sana,” katanya.

Kendati begitu, biaya tiket menuju negara tujuan, termasuk biaya penginapan dan biaya hidup di sana, harus ditanggung sendiri. Untuk itulah, baik UMY dan univeritas tujuan, menggratiskan pendidikan mahasiswa kelas internasional. Ini untuk mengefisiensikan biaya. “Nah, uang yang seharusnya dibayarkan untuk SPP kami bebaskan. Bisa langsung digunakan untuk biaya penginapan dan biaya hidup di sana,” jelasnya.

Peminat kelas internasional selama lima tahun terakhir terus meningkat. Peluang pekerjaan mereka juga juga lebih luas dari program regular. Ini lantaran mahasiswa kelas internasional punya kemampuan lebih di bidang bahasa dan wawasan.

Pengalaman mereka yang pernah bekerjasama dengan lingkungan belajar di luar negeri, bisa meningkatkan jaringannya. “Di UMY setiap mahasiswa dididik punya soft skill yang baik. Setidaknya mereka mau berdakwah bagi Indonesia berkemajuan,”  tambah Sukamta. (ega/laz/er/mo2)