SLEMAN – Universitas Gadjah Mada (UGM) Selasa (6/11) digegerkan dengan artikel berjudul Nalar Pincang UGM Atas Kasus Perkosaan. Artikel yang dirilis Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung itu mengulas kasus asusila yang menimpa AN. Mahasiswi Fisipol UGM ini diduga menjadi korban pelecehan seksual ketika menjalani kuliah kerja nyata (KKN).

Peristiwa tersebut terjadi di Unit KKN-PPM Pulau Seram, Maluku pertengahan tahun lalu. Pelaku pelecehan seksual merupakan rekan sesama subunit KKN-nya berinisial HS. Dia mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2014. Saking viralnya, laman balairungpress.com sulit diakses tadi malam.

Menyikapi hal itu, UGM menyatakan siap mengambil langkah hukum untuk keadilan bagi korban.

”UGM serius terhadap kasus ini dan sangat konsen dan berempati pada korban,” tegas Kepala Humas dan Protokol UGM Iva Ariani saat dihubungi tadi malam.

UGM, kata Iva, bakal melakukan klarifikasi untuk memastikan kebenaran konten artikel itu. Termasuk kepada AN. Apalagi, ada kejanggalan di balik AN yang bersedia membeberkan pengalaman pahitnya.

”Langkah hukum akan kami ambil agar si penyintas ini mendapat rasa keadilan yang benar-benar bisa membuat dia merasa nyaman,” jelasnya.

Iva menjelaskan, UGM sebenarnya telah lama mendengar kabar ini. Bahkan, UGM langsung mengambil mengambil sikap. Di antaranya dengan langsung menarik HS dari lokasi KKN setelah mendapat informasi kejadian. UGM juga membentuk tim investigasi independen pada awal 2018. Anggotanya tiga orang. Dosen Fakultas Teknik, Fisipol, dan Fakultas Psikologi ini melakukan investigasi sejak April hingga Juli.

Menurutnya, tim investigasi melihat langsung ke lokasi dan mengawal permasalahan tersebut. Hasil investigasi berupa rekomendasi-rekomendasi untuk pelaku dan korban yang ditujukan pada petinggi kampus.

Selain mencari jalan keluar, tim juga melakukan pendampingan kepada pelaku dan korban. Pendampingan dilakukan secara kontinyu. Sebelum pendampingan selesai, pelaku dan korban tidak bisa menyelesaikan studinya. Rekomendasi selain pendampingan psikolog, juga untuk perbaikan nilai KKN AN yang diberikan oleh dosen pembimbing lapangan (DPL). Dari C menjadi A/B.

“Rekomendasi itu sudah dilaksanakan, jadi tim itu memberikan rekomendasi juga atas persetujuan terduga pelaku dan juga penyintas,” terang dosen Fakultas Filsafat UGM ini.

Pascakesepakatan atas rekomendasi tersebut, pihak kampus menganggap kasus ini sudah selesai. Karena sudah didiskusikan oleh semua pihak terkait dan rekomendasi sudah dijalankan.

“Kami betul-betul merasa prihatin, apalagi saya sesama perempuan, kerasa banget apa yang dirasakan sebagai perempuan,” ungkap Iva.

Dari pantauan Radar Jogja, tak sedikit warganet yang tidak puas dengan pernyataan sikap yang dikeluarkan humas UGM. Mereka menuntut UGM untuk tidak meluluskan HS. Iva membenarkan HS telah menyelesaikan administrasi akademiknya. Namun dia belum bisa lulus lantaran masih menjalani pendampingan psikologis. (tif/zam/fj/mg3)