MIMPINYA adalah menghidupkan, sekaligus mengenalkan dunia basket di kalangan anak muda. Segala keterbatasan yang dimiliki tidak boleh menghalangi seseorang bermain basket.

Andhika Putra Pratama bercerita tentang pengalaman kecewanya tak terpilih sebagai kandidat first team Honda DBL Lampung Series 2013. Pada tahun yang sama, sang ibu berpulang karena leukimia.

‘’Aku asli Jogja, dulu sekolah di SMPN 4 Jogja. Namun karena ibu sakit leukimia dan harus pulang untuk tinggal bersama keluarga besarnya di Lampung, lulus SMP aku menemani untuk lanjut SMA di sana,” ceritanya.

Saat itu sebenarnya Andhika ingin mengejar sekolah basket di Ibu Kota. Namun karena keadaan, akhirnya dia melanjutkan sekolahnya di SMA Kristen Metro Lampung dan bisa masuk ke babak final pada 2013.

‘’Pada 2013 itu pula aku gagal masuk first team yang kucita-citakan, lalu tak berselang lama ibu meninggal. Aku sempat mau menyerah, tapi pelatihku saat itu menyemangatiku, dan mengatakan padaku untuk tetap bertahan dengan basket yang kusukai,” kenangnya.

Saat beranjak kelas XII SMA, pria kelahiran 17 Juli 1996 itu memutuskan belajar menjadi pelatih. Lalu pada 2014 selepas lulus SMA dia kembali ke Jogja dan ikut melatih almamaternya SMPN 4 Jogja dan selanjutnya hingga kini melatih SMPN 4 Depok dan SMAN 2 Jogja (Smada).

‘’Aku gak mau nanggung di basket. Ibarat udah basah, nyemplung aja sekalian. Makanya, prinsipku selagi masih muda, aku mau cari ilmu ke mana aja buat memperdalam ilmu melatih basket,” kata Andhika.

Andhika terpilih sebagai Girls First Team Coach Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2018. Dia berada di balik kesuksesan Audrey Gunajaya yang dapat bermain efektif dan tentu laki-laki yang bercita-cita dapat menjadi coaching staff di klub basket profesional itu pun, juga adalah arsitek dari tim cowok Smada. Berkat kepiawaiannya tim cowok dan cewek SMAN 2 Jogja tahun ini dapat masuk ke babak fantastic four.

‘’Pelatih ibarat koki dan harus bisa meracik makanan enak dari bahan yang ada. Harus bisa melatih, mix and match materi pemain agar dapat menjadi sebuah tim yang bagus,” katanya.

Sebagai head coach Smada, Andhika selalu menekankan pada para pemainnya untuk break the limit. Dia berharap seorang pemain bisa from zero to hero.

‘’Aku tekankan ke mereka, jangan minder, jangan pernah menyerah dalam basket. Dalam kondisi susah sekalipun, basket harus terus jalan. Ketika seorang pemain mengalami kesusahan jangan ragu untuk ngomong sama pelatih. Aku sebagai pelatih pasti siap membantu apapun kesulitan mereka di dalam maupun di luar lapangan,” ungkap Andhika.

Filosofi melatih Andhika adalah seorang pelatih harus menjadi teman dekat pemain. Kejujuran dan keterbukaan keduanya akan membentuk kesatuan yang kemudian dapat membuat sebuah tim menjadi kuat. Dalam perjalanan melatihnya, Andhika pernah memberikan sepatu miliknya untuk anak asuhnya yang sempat akan berhenti basket karena sepatunya rusak dan orang tua tidak bisa membelikan gantinya.

‘’Aku sampai di titik ini pun karena banyak dibantu oleh orang-orang di sekitarku. Maka saat ini aku ingin membalas apa yang kudapat dulu. Balas budiku untuk juga membantu yang lain selama aku bisa,” tutur Andhika. (ata/iwa/by/mg3)