Desa Genjahan sebagai salah satu wilayah pertanian subur. Para pemudanya juga dikenal kreatif dan cermat membaca peluang. Termasuk peluang wisata.
GUNAWAN, Gunungkidul

AREA pertanian di Pedukuhan Susukan 2, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong belakangan ini mendadak menjadi buah bibir. Terutama, di dunia sosial media. Saking menariknya, tidak sedikit yang akhirnya penasaran. Ingin melihat dari dekat sekaligus berswafoto. Bahkan, belajar. Kok bisa?

Ya, area pertanian yang sering disebut dengan Bulak Widoro bermetamorfosa menjadi wisata lahan pertanian terpadu. Area pertanian yang dulunya hanya berisi tanaman padi atau palawija ini sekarang berubah menjadi layaknya sebuah taman. Tanaman bunga matahari dan bunga selosia tertanam rapi di pinggiran petak sawah. Seolah menjadi pagar tanaman padi.

”Awalnya tumbuhan bunga ini hanya untuk mengurangi hama sekaligus untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia,” jelas Riptanto Edy Wibowo, salah satu pengelola wisata menceritakan keberadaan dua tanaman bunga yang menghasilkan serbuk sari itu.

Seiring waktu berjalan, pengelola punya ide melengkapi dua tanaman bunga itu dengan berbagai furnitur. Seperti jembatan bambu dan rumah kayu.

Nah, kombinasi hamparan tanaman padi, deretan bunga penghasil serbuk sari, jembatan dan rumah kayu ikonik inilah yang mengundang rasa penasaran. Namun, pengunjung tak rugi ketika datang untuk melihat dari dekat. Tidak hanya pemandangan indah dan berswafoto dengan background furnitur ikonik, pengunjung juga dapat belajar tentang pertanian. Khususnya antisipasi hama.
Kendati begitu, Riptanto menyebut wisata edukasi pertanian dan spot swafoto belum dibuka secara resmi.

”Nanti ada tarif untuk memasuki spot swafoto,” ujarnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Desa Gejahan Heru Prasetyo mengatakan, lokasi tersebut dikembangkan sebagai lahan pertanian terpadu. Selain tanaman padi, juga ada tanaman penghasil serbuk sari. Tanaman bunga ini menarik perhatian capung dan tawon.

”Harapannya capung dan tawon bisa memakan hama yang biasa menyerang padi,” katanya.

Menurutnya, konsep ini sekaligus sebagai upaya menarik anak muda untuk turun ke sawah. Terutama pemuda Desa Genjahan.
”Pengelolanya anak muda. Petaninya juga ada yang dari kalangan pemuda,” tuturnya.

Camat Ponjong Johan Eko Sudarto mengapresiasi para pemuda Desa Genjahan dalam mengembangkan lahan pertanian.

Menurutnya, pengembangan lahan menjadi lokasi wisata harus didukung secara maksimal. Apalagi, Kementerian Pariwisata saat ini sedang menggagas wisata digital.

”Di mana menyediakan lokasi untuk berswafoto dan promosi melalui media internet,” katanya.

Anjar Ardityo, seorang pengunjung mengaku sengaja melihat lahan pertanian terpadu untuk menjawab rasa penasarannya. Warga Wonosari ini mengetahui destinasi baru ini dari media sosial.

”Lokasinya sejuk. Juga ada sarana bermain anak-anak,” ucapnya dengan mengacungkan dua jempol. (zam/fj/mg3)