Gua Cerme memiliki pesona bebatuan yang unik serta sungai bawah tanah sepanjang 1,5 kilometer. Yakni stalaktit yang menggantung indah dan staglamit yang tak kalah menarik.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

Jalan yang terus menanjak menjadi tantangan untuk mencapai Gua Cerme. Lokasi tepatnya di perbatasan Bantul dan Gunungkidul, antara Dusun Srunggo 2, Selopamioro, Imogiri, Bantul dan Dusun Ploso, Giritirto, Panggang Gunungkidul.

Ada empat aliran cabang sungai yang berukuran sempit. Jika ingin menyusuri gua, harus menggunakan senter lantaran gua tersebut sangat gelap dan memiliki struktur permukaan yang tidak rata.

Menurut salah seorang pemandu dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat, Rakim Gua Cerme memiliki banyak gua di dalamnya. Rakim juga menceritakan gua tersebut memiliki mata air yang jernih. Masyarakat sekitar gua tersebut menyebutnya sebagai air zam-zam. Konon air zam-zam merupakan air suci yang digunakan untuk berwudu dan sumber air minum masyarakat setempat.

Jika memasuki gua harus menuruni anak tangga dan menyeberangi sungai bawah tanah setinggi betis orang dewasa. Jika berjalan 100 meter, maka akan menemukan gua mustaka. Gua tersebut terdapat batu sebesar kepala manusia. ”Dulu jaman kakek saya, ada sebanyak 65 kubah batu. Namun sudah di curi dan sisa satu,” ungkap pria 56 tersebut.

Selanjutnya terdapat Gua Pandu yang mengarah pada kiblat. Berjalan lagi 100 meter, akan menemukan gua batu kaji. Batu tersebut dimitoskan seperti hadjar aswad yang berada di Mekkah. Jika kembali menyisir sungai, akan dijumpai air suci berjarak 400 meter dari pintu masuk. Air suci tersebut berupa kumpulan air dari dinding gua.

”Nah, gua paseban atau gua khayangan tempat pertemuan para wali. Disana ada kentongan dari batu. Jika dipukul suaranya menyerupai kentongan dari kayu,” ungkap warga Srunggo, Selopamioro.

Mitosnya, wisatawan spiritual yang bermeditasi akan terkabul apabila permukaan gua tersebut berubah lunak seperti permukaan kasur. Pada gua ini langit-langit gua berupa bebatuan yang mengkristal. Di dalam sisi sungai tersebut akan ditemukan air terjun setinggi tiga meter. Kemudian ada bata sewu, gua watu gilang, lumbung padi, gua gamelan dengan suara tetesan air yang menyerupai musik gamelan, gua keraton, kedung sekokop dan batu gateng sebagai bagian sisir sungai gua paling akhir. ”Itu tembusan Pring Ombo, Desa Ploso. Nah, jika wisatawan capek bisa naik ojek pulangnya,” tuturnya di sertai tawa.

Ada juga Gua lawa yang isinya kelelawar. Di bagian luar gua juga ada gua lain, yakni gua dalang untuk kumpulan dalang-dalang sebelum melakukan pementasan. Ada gua ledek digunakan untuk perkumpulan penyanyi dan penari ledek, ada gua badut untuk perkumpulan ketoprak, pelawak dan lain-lain. “Terakhir adalah gua kaum ustad dan modin yang terletak di sisi kiri gua yang digunakan untuk perkumpulan ustad dan modin,” sahut Parijo, teman Rakim.

Kata Parijo, filosofi kehidupan manusia secara Islami ada di gua tersebut. Mulai dari air zam-zam untuk berwudu. Gua mustaka tempat ibadah. Yang menghadap gua pandu sebagai kiblat. Kemudian adanya mata air untuk menyucikan kembali diri melambangkan bahwa manusia harus senantiasa mensucikan diri dan menjaga ibadah, silahturahmi, bermufakat, mencari ketentraman dan kedamaian. Bata sewu sebagai simbol setelah ketentraman, manusia di harapkan dapat memiliki papan atau rumah.

Batu gilang dan lumbung padi mencerminkan kesejahteraan. ”Nah, gua keraton ini sebagai jaman kejayaan,” ungkap Parijo.

Gua cerme saat ini menjadi penggerak bagi perekonomian warga sekitarnya. Mulai dari sumber air gua digunakan untuk pengairan sawah, untuk minum dan lain-lain. tak sedikit warga memanfaatkan area tersebut untuk berdagang menjajakan makanan khas di daerah tersebut. (pra/er/mg3)