SLEMAN – Kepala Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ Agus Sudaryanto mengingatkan, wilayah DIJ mulai diguyur hujan deras. Tepatnya 6 hingga 9 November. Namun, berdasar pantauan satelit cuaca, hujan lebat hanya terjadi di sebagian wilayah DIJ. Itu pun dengan durasi singkat.

”Meski durasi hujan tidak lama, tapi potensi disertai petir dan angin kencang cukup tinggi,” jelas Agus saat dihubungi Selasa (6/11).

Lebatnya curah hujan di sebagian wilayah DIJ akibat melemahnya aliran massa udara kering dari Australia. Ditambah dengan pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di wilayah Jawa. Bersamaan, suhu permukaan laut di Samudera Hindia juga mengalami peningkatan.

”Persebaran awan hujan di DIJ belum merata, sehingga curah hujan juga hanya di beberapa wilayah,” ucapnya.

Agus mencatat setidaknya tiga hingga enam kecamatan di setiap kabupaten/kota bakal diguyur hujan deras. Kabupaten Sleman meliputi Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan, Tempel, Minggir, Seyegan dan Sleman. Untuk Kabupaten Kulonprogo meliputi Kecamatan Samigaluh, Kalibawang dan Girimulyo. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul meliputi Kecamatan Ngawen, Gedangsari, Patuk, Purwosari dan Playen.

”Bahkan untuk Kabupaten Bantul hanya di Dlingo, Kretek dan Pundong,” sebut Agus mengungkapkan belum meratanya hujan juga karena memasuki masa pancaroba.

Agus juga mengingatkan dampak lain dari turunnya hujan deras kali ini. Berdasar data BMKG, gelombang laut di perairan selatan meningkat. Mencapai 2,5 hingga 3 meter.

Dari itu, Agus mengimbau mewaspadai berbagai potensi yang ditimbulkan fenomena alam ini. Di antaranya, tanah longsor, angin kencang, banjir, dan petir.

”Jangan asal berlindung di bawah pohon atau baliho karena ada bahaya angin kencang dan tersambar petir,” pesannya.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG DIJ Djoko Budiyono mengungkapkan hal senada. Dia memperkirakan kecepatan angin mencapai 5-10 knot. Angin dengan kecepatan ini berpotensi merobohkan pepohonan tua. Bahkan, bisa merobohkan baliho.

”Ada baiknya memangkas pohon atau mengecek kekuatan baliho di pinggir jalan,” sarannya.

Sementara itu, datangnya musim penghujan bakal memicu munculnya genangan air di sejumlah ruas jalan. Sebab, beberapa saluran drainase belum berfungsi maksimal.

Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Aki Lukman Noor Hakim menyebut di antara ruas jalan yang berpotensi tergenang adalah Jalan Kemasan, Jalan Supomo, Jalan Ipda Tut Harsono, dan Jalan Gondosuli.

”Pemaksimalan saluran drainase di beberapa titik itu belum selesai. Pada 2020 nanti akan saya usulkan anggarannya,” katanya.

Kendati begitu, dia melihat, potensi tergenangnya sejumlah ruas jalan tidak hanya karena belum selesainya pemaksimalan saluran drainase. Perilaku membuang sampah sembarangan juga ikut memperparah.
”Karena sampah menyumbat saluran air,” tuturnya. (dwi/cr5/zam/fj/mg3)