BANTUL – Hujan yang juga sudah mulai turun di wilayah Bantul, membuat warga yang tinggal di kawasan rawan longsor diminta waspada. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul sudah memetakan zona merah longsor di Bantul.

Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah mengatakan beberapa zona merah rawan longsor, seperti Girirejo, Karangtengah, Mangunan, Muntuk, Seloharjo, Selopamioro, Sriharjo, Srimulyo, Wukirsari, Srimartani, Wonolelo, Jatimulyo. Selain itu ada di Terong, Sendangsari, Triwodadi, dan Guwosari.

“Walaupun tidak semua. Ada beberapa zona merah di sana,” jelasnya Selasa (6/11).

Menurut dia ada sekitar 2.335 kepala keluarga (KK) yang tinggal di zona merah rawan longsor. Sejak 2008 lalu Pemkab Bantul sudah berupaya melakukan relokasi untuk meminimalkan korban. “Setiap tahun ada sekitar 5-10 KK yang direlokasi,” jelasnya.

Untuk relokasi, jelas dia, dengan memanfaatkan tanah milik warga sendiri yang lebih aman. Bisa juga direlokasi ke tanah kas desa.

“Kalau mengikuti program relokasi pemerintah, pasti ada stimulan dana. Tapi penanggulangan tanggap bencana bukan tugas pemerintah saja. Tapi juga tanggung jawab masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto menambahkan, selain ancaman longsor masyarakat juga perlu waspada pohon tumbang yang menimpa rumah. Masyarakat diminta melihat pohon di sekitar rumah, jika pohonnya berpotensi roboh sebaiknya di tebang. “Kalau pohonnya kokoh tapi cabangnya kemana-mana juga berpotensi tumbang. Jadi sebaiknya dikurangi cabang-cabangnya,” katanya.

Termasuk masyarakat yang tinggal di daerah bantaran sungai, diminta untuk memerhatikan tanda-tanda alam. Bila perlu masyarakat juga mematuhi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) setempat, sebagai langkah antisipasi. Agar tidak menimbulkan korban jiwa seperti tahun lalu.

Menurut dia berbagai persiapan harus dilakukan oleh masyarakat. Apalagi hujan pertama pasti berangsur-angsur akan diikuti angin kencang. Salah satu hal yang harus diantisipasi sejak awal yaitu pohon tumbang.

Saat ini, jelas dia, angin kencang punya radius yang terus meningkat. Lantaran perubahan tata ruang dan musim yang terus berganti. Jika beberapa waktu lalu hanya daerah cekungan saja yang terdampak angin kecang. “Saat ini hampir di semua daerah terdampak,” tegasnya. (ega/pra/mg3)