BANTUL – Sidang perdana kasus penggelapan di Pengadilan Negeri (PN) Bantul Senin (5/11) diwarnai insiden. Tim kuasa hukum Edi Susanto, terdakwa kasus penggelapan memilih walk out. Itu sebagai protes atas sikap majelis hakim yang nekat menyidangkan perkara warga Krapyak, Panjangrejo, Pundong, tersebut. Sebab, tim kuasa hukum telah mengajukan gugatan pra peradilan ke PN Bantul. Bahkan, pendaftaran gugatan pra peradilan lebih dulu dibanding pelimpahan berkas perkara dari jaksa.

Thomas Nurana Edi Dharma, seorang anggota kuasa hukum Edi Susanto mengungkapkan, kejanggalan penanganan perkara ini terletak pada sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan. Sebab, jaksa penuntut umum (JPU) melimpahkan perkara ini ke pengadilan Selasa (30/10). Sementara tim kuasa hukum mendaftarkan gugatan pra peradilan lebih dulu dibanding JPU. Persisnya Senin (22/10) lalu. Sedianya sidang pra peradilan digelar hari ini.

”JPU yang mendaftar 30 Oktober malah dijadwalkan sidang hari ini (Senin),” kritik pria yang juga direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pandawa ini Senin.

Dengan sidang perdana ini, Thomas menyebut, sidang pra peradilan kliennya yang sedianya digelar hari ini bakal ditolak.

Dia menuding ada kongkalikong dalam perkara ini. Karena itu, tim kuasa hukum bakal melaporkan hal ini ke berbagai pihak. Mulai Kejaksaan Tinggi DIJ, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Agung.

”Karena ada ketidakpastian hukum di sini. Ini sangat tidak rasional,” katanya.

Untuk diketahui, perkara ini bermula dari hilangnya mobil yang dikemudikan Edi. Saat itu Edi yang berprofesi sebagai driver online mengantar penumpang ke sebuah restoran di Jalan Wates, Kulonprogo. Mobil itu milik tetangganya bernama Novitasari.

Saat di restoran, penumpang yang diketahui bernama Rendi meminjam mobil tersebut. Edi pun memberikannya. Edi tak menaruh kecurigaan apapun lantaran Rendi memberikan iming-iming.

”Untuk mendapat kehidupan lebih baik,” tutur Mohammad Novweni, seorang kuasa hukum lainnya.

Namun, iming-iming itu hanya alibi. Rendi tak kunjung kembali mengembalikan mobilnya. Menurutnya, kliennya lantas melaporkan hal ini ke Novitasari. Dan, Novi meminta Edi untuk melaporkannya ke Polres Kulonprogo. Apesnya, Novi diam-diam juga melaporkan tetangganya itu ke Polres Bantul. Tuduhannya penggelapan mobil.

Humas Pengadilan Negeri Bantul Koko Riyanto berdalih pihaknya tidak bisa menolak berkas perkara yang diajukan JPU. Seluruh berkas dari JPU yang masuk bakal diproses. Ketua PN bakal menunjuk majelis hakim yang akan menyidangkan perkara.

”Sesuai pasal 152 KUHAP, majelis hakim wajib menentukan hari sidang. Kebetulan pelimpahan perkara dilakukan Selasa (30/10),” katanya.

Disinggung soal jadwal sidang pembacaan dakwaan yang lebih dulu pra peradilan, Koko mengatakan, pengajuan sidang pra peradilan sudah melalui banyak pertimbangan majelis hakim. Dengan begitu, disesuaikan dengan jadwal di PN Bantul.

”Saya tidak punya kewenangan untuk memberikan jawaban terkait hal tersebut. Itu murni keputusan majelis hakim,” dalihnya. (ega/zam/fj/mo2)