SLEMAN – Sleman menjadi kabupaten yang berupaya memperbanyak desa inklusi. Setelah Sendangadi dan Sendangtirto, kini Sinduadi, Tirtoadi, Sumberadi, dan Tlogoadi sedang berproses menjadi desa inklusi.

“Tirtoadi dan Sinduadi sudah terbentuk organisasinya,” jelas Doddy Kaliri, penggiat isu difabel ditemui Radar Jogja di Sendangadi, Mlati, Sleman, Senin (5/11).

Doddy sejak lama merintis desa inklusi bersama para penggiat di Sasana Inklusi dan Gerakan Difabel (Sigab). Organisasi Difabel Desa Sendangadi (ODDS), bentukannya, telah mengantongi SK dari pemerintah desa. Organisasi ini memiliki unit usaha memberdayakan para difabel.

Telah terbentuk pula Organisasi Difabel Tirtoadi dan Forum Komunikasi Difabel Sinduadi. Doddy sedang mengupayakan legalitas organisasi ini agar dapat menjadi wadah advokasi pemenuhan hak-hak difabel.

“Ini penting untuk meningkatkan partisipasi dalam pembangunan desa yang ramah difabel,” jelasnya.

Saat ini partisipasi difabel sudah mulai meningkat di Sendangadi. Doddy menuturkan, para difabel sudah terlibat aktif dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa Sendangadi.

“Mereka sudah didengarkan dan aspirasi mereka sudah diakomodasi oleh perangkat desa,” ungkapnya.

Para difabel sudah mulai mengikuti berbagai kegiatan di desa. Hal ini menandai masyarakat yang mulai terbuka dengan para difabel. “HUT Sendangadi tahun lalu ada Bregodo Inklusif yang melibatkan para difabel,” jelasnya.

Pertemuan rutin tiap bulan dan pengadaan batik Parijotho untuk ODDS juga telah dianggarkan oleh pemerintah desa. Begitu juga berbagai pelatihan, mulai dari pewarnaan kain dengan teknik marbling sampai pembuatan batik dengan teknik shibori.

“Semoga tidak berhenti sampai di sini,” harapnya. (cr10/iwa/by/mo2)