Manajemen PSS Sleman optimistis peluang meraih tiket Liga 1 Indonesia masih terbuka lebar, meski di laga kedua Super Elja (Elang Jawa) berada di posisi paling buncit klasemen Grup B babak delapan besar. Super Elja menjadi kontestan grup B yang belum merasakan kemenangan.

Ya, dari dua laga delapan besar yang telah dilokoni, PSS Sleman hanya mampu meraih nilai satu hasil dari kekalahan melawan Persiraja Banda Aceh dengan skor 1-2 dan hasil seri melawan Persita Tanggerang 1-1. Namun, hasil tersebut di dapat dari laga tandang.

“Kami belum menjalani laga kandang. Jadi peluang masih terbuka lebar,” kata Direktur Ooperasional PSS Sleman Rumadi.

Rumadi menegaskan, di laga-laga krusial skuad Super Elja membutuhkan dukungan dari suporter agar memadati stadion. Dukungan dari suporter memberikan motivasi bagi pemain untuk bisa meraih poin dengan margin gol yang lebih besar.

Sebab, dengan sistem head to head yang diterapkan PT LIB, selisih gol kandang dan tandang akan menjadi penentu keberadaan peserta di papan klasemen. Dia berharap masyarakat akan memberikan dukungan penuh.

“Secara psikologis kami memang baru dapat satu poin. Butuh dukungan suporter agar pemain memberikan yang terbaik untuk memenangi laga sisa,” tegasnya.

Sementara itu, memasuki babak delapan besar, Panpel PSS Sleman secara resmi menaikan harga tiket kandang sebesar Rp 5000. Ketua Panpel PSS Sleman Jaguar Tominangi menjelaskan, kenaikan itu sudah disepakati jajaran manajemen PT Putra Sleman Sembada.

Berdasar keputusan ini, harga tiket semula tribun utara dan selatan dijual Rp 25 ribu, naik menjadi Rp 30 ribu. Sedangkan tiket untuk tribun merah yang biasa dibanderol Rp 45 ribu, naik menjadi Rp 50 ribu dan tribun VIP dari Rp 65 ribu naik menjadi Rp 70 ribu. “Pada laga melawan Madura FC, kami sediakan 27.000 lembar tiket,” kata pria yang akrab disapa Jenggo ini.

Melawan Madura FC hari ini, dia yakin masyarakat akan berbondong-bondong datang ke stadion meskipun pertandingan digelar pada hari kerja sore hari. Diakui Jenggo, penyelenggaraan pada hari-hari kerja berpengaruh pada penonton yang hadir. Sebab biasanya, ada penurunan jumlah penonton di saat jam kerja di banding penyelenggaraan di waktu libur atau malam hari. (bhn/laz/fj/mo2)