Siap Menerima Aturan, PKL Denggung Resah

SLEMAN – Pasca-peninjauan lapangan untuk melihat kondisi Taman Denggung yang dilakukan Asekda II Ekonomi dan Pembangunan Sleman, Suyono, bersama UPT Stadion Maguwoharjo dan dinas terkait membuat sebagian pedagang resah. Mereka khawatir jika nanti tidak bisa berjualan di sekitaran Lapangan Denggung lagi.

“Takut kalau tidak bisa jualan di sini (Denggung, red),” kata Erna Radya Wati, salah seorang pedagang angkringan di Denggung Senin (5/11).

Ketua Paguyuban PKL Taman Gajah, Tri Maryadi menjelaskan permasalahan PKL ini sangat krusial. Sebab, itu hubungannya dengan mata pencaharian.

Dia menjelaskan, para PKL sebenarnya mau jika nantinya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menata para PKL. “Asal jangan dipindah,” pintanya.

Dia siap menerima aturan yang disodorkan pemerintah. Termasuk jika nantinya dibuatakan los dan diminta untuk membayar retribusi. “Kami siap mengikuti aturan main dari Pemkab,” tegasnya.

Kepala UPT Stadion Maguwoharjo Sumadi menjelaskan pihaknya tengah menyusun konsep penataan PKL. Nantinya, akan dilakukan pemisahan antara pedagang makanan dan mainan. “Untuk saat ini fokusnya makanan dulu,” ujarnya.

Dalam konsepnya, akan ada lapak khusus yang disediakan Pemkab. Berupa los-los yang disewakan ke pedagang sehingga retribusinya bisa masuk ke pendapatan daerah.

Namun, penataan kawasan Denggung tidak bisa dilakukan terburu-buru. Harus ada pendekatan kepada pedagang agar tidak terjadi polemik. “Target penataan 2019, karena baru ada dana pada 2019,” ujarnya.

Selain itu, dari pemantauannya, banyak fasilitas yang sudah tidak layak. Termasuk bangku yang patah. “Nanti kalau bangku-bangku yang patah itu akan segera kami perbaiki,” janjinya.

Suyono menuturkan pemantauan ini hanya sebatas mencari bentuk penataan terbaik kawasan Denggung. Sebab lokasi itu merupakan cerminan Sleman.

Namun hingga kemarin, Pemkab Sleman baru proses penyusunan detail engineering design (DED). “Kalau penataan tidak sekarang, 2019 baru dimulai,” ujarnya. (har/iwa/by/mo2)