Sikapi Kemajuan Teknolgi, Pelaku UMKM Harus Go Digital

SLEMAN- Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Sleman berupaya menyuburkan iklim usaha di semua lini. Utamanya mendorong para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar terus bertumbuh.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sleman Pustopo mengatakan, citra UMKM jangan hanya diidentikkan dengan ibu-ibu. Justru anak muda yang seharusnya berpikiran untuk berwirausaha.

“SMA, SMK, bahkan lulusan perguruan tinggi mindset-nya jangan jadi pegawai, tapi pengusaha,” tutur kata Pustopo di sela bincang-bincang Festival UMKM Sembada Senin (5/11).

Perkembangan UMKM di Sleman, kata dia, masih membutuhkan banyak perhatian. Diakui, setiap organisasi perangkat daerah memiliki UMKM binaan. Namun semua itu belum terorganisasi dengan baik. Karena belum terintegrasi menjadi satu. Cenderung berjalan sendiri-sendiri.

Lebih lanjut, dia juga menyoroti keberadaan toko modern yang dianggap dapat membantu keberlangsungan UMKM. “Adanya mal, toko modern, itu bagi saya tidak masalah. Asalkan ada perda yang mengatur agar UMKM bisa bermitra,” ujarnya.

Upaya meningkatkan kompetensi pelaku usaha menjadi fokus tersendiri. Khususnya terkait kualitas produk dan strategi pemasaran. Dalam hal ini dinas membangun ruang Pojok Konsultansi. Sebagai wadah diskusi untuk membantu memecahkan persoalan yang dihadapi para pelaku usaha. Sejak April lalu tak kurang 200 pelaku usaha mengaksesnya.

Keberadaan Pojok Konsultasi diperkuat dengan Festival UMKM Sembada. Sebagai wujud riil untuk ajang kompetensi dan berbagi ilmu dan pengetahuan tentang UMKM.

Kabid Usaha Mikro Fahmi Khoiri merinci, hingga tahun ini Sleman memiliki sedikitnya 36 ribu UMKM terdata. Tersebar di 86 desa di 17 kecamatan. “Sekitar 90 persennya pelaku usaha mikro,” jelasnya.

Usaha mikro bermodal maksimal Rp 50 juta per tahun. Atau usaha yang mendapatkan omzet maksimal Rp 300 juta per tahun. Pedagang pasar dan pelaku usaha sektor pertanian tidak termasuk di dalamnya.

Menurut Fahmi, belum semua pelaku UMKM mendaftarkan usahanya pada lembaga pemerintah. Padahal pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk pengelolaan UMKM. “Cukup daftar di desa. Supaya fasilitasi dari pemerintah lebih merata,” pintanya.

Sementara itu, Konsultan Pojok Konsultasi UMKM, Pusat Layanan Usaha Terpadu DIJ Yuli Afriyandi menambahkan, perkembangan teknologi saat ini bisa menjadi senjata ampuh pengembangan usaha. Lewat media sosial. Facebook atau Instagram.

Melihat pola konsumsi masyarakat modern yang serba praktis, proses transaksi tak lagi harus bertatap muka. Media sosial bisa jadi alat promosi sekaligus penjualan yang efektif. “Data penjualan di e-commerce tinggi, namun kemampuan pelaku usaha memaksimalkan media sosial masih rendah,” ungkapnya.

Yuli berharap, para pelaku usaha bersedia mengubah pola pikir konvensional. Dan mulai mengikuti arus pasar untuk go digital. Dia mendorong setiap jenis usaha memiliki akun di media sosial. “Karena nantinya itu sebagai etalase produk,” ujar Yuli.

Jika langkah itu terwujud, selanjutnya tinggal memaksimalkan media sosial itu.

Setiap pelaku usaha harus berlatih membuat foto yang menarik untuk di-upload di laman media sosial. Foto dilengkapi caption yang tak kalah menarik.

Kendati demikian, semua itu akan percuma jika pelaku usaha tidak konsisten mengelola akun media sosial. “Konsistensi meng-upload produk, misalnya. Jika hanya biasa-biasa saja pasti nanti akan tergusur,” jelasnya.

Untuk mendapat hasil maksimal, lanjut Yuli, pelaku usaha harus bijak memanfaatkan kemajuan teknologi. Apalagi di era persaingan digital yang semakin ketat saat ini. (*/har/yog/rg/mo2)